Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Janji Kekayaan dari Dunia Gelap yang Tak Pernah Gratis Kisah Pesugihan sate gagak dari Timur Jawa

Dwi Siswanto • Sabtu, 15 November 2025 | 00:50 WIB
Photo
Photo

Halo Jember — Malam itu, angin berhembus pelan di antara pepohonan jati tua di pinggiran desa Wonotirto.

Aroma dupa hitam dan kemenyan menguar dari sebuah gubuk reyot di tengah ladang kosong. Di dalamnya, seorang pria berpakaian serba hitam duduk bersila di depan bara api kecil.

Di atas bara itu, tusukan daging gagak perlahan menghitam dibakar tanpa bumbu, tanpa suara, hanya sesekali terdengar desis lemak terbakar dan kepak sayap gagak yang tergantung di langit-langit.

Malam itu bukan sembarang malam.

Bagi sebagian orang Jawa, malam Jumat Kliwon dipercaya sebagai waktu di mana batas antara dunia manusia dan dunia gaib mulai menipis.

Dan malam itu, ritual pesugihan dimulai.

Setelah mantranya dibaca, arwah atau makhluk penjaga kekayaan akan datang. Mereka tak terlihat, hanya terasa dari suhu udara yang tiba-tiba dingin, dari bara yang bergetar, dan dari suara gagak yang tiba-tiba terdengar meski malam itu tak ada burung seekor pun.

“Perjanjian dimulai. Dan sekali janji diucapkan, tak bisa dibatalkan.”


Dalam setiap perjanjian pesugihan, selalu ada pantangan dan harga yang harus dibayar.

Pelaku pesugihan sate gagak tak boleh menceritakan ritualnya kepada siapa pun. Ia juga dilarang menolak jika suatu malam terdengar suara gagak di atap rumahnya — karena itu tanda bahwa makhluk penunggu datang menagih bagian.

Beberapa warga percaya, jika pantangan itu dilanggar, sang pelaku akan menemukan seekor gagak mati di depan pintu rumahnya keesokan pagi.

Tak lama setelah itu, hidupnya akan berubah tragis entah sakit mendadak, bisnis hancur, atau meninggal tanpa sebab.

Ulama menegaskan bahwa ritual seperti ini termasuk perbuatan syirik — mempersekutukan Tuhan demi imbalan duniawi.

“Tak ada kekayaan yang datang lewat jalan hitam tanpa balasan. Setan tak pernah memberi secara cuma-cuma,” ujar KH. Ahmad Fadli dari Jombang.

Sementara dari sisi medis, daging gagak sangat berbahaya. Burung itu pemakan bangkai, membawa banyak virus dan bakteri beracun yang bisa menyebabkan infeksi parah.

Namun, sebagian orang yang sudah terikat tak peduli lagi. Mereka percaya, setiap gigitan sate gagak adalah perjanjian darah.

Pesugihan sate gagak kini lebih sering dianggap mitos, tapi di pelosok desa Jawa Tengah dan Jawa Timur, kisah ini masih hidup dari mulut ke mulut.

Banyak yang mengaku pernah mendengar cerita seseorang yang tiba-tiba kaya, namun hidupnya berakhir dengan cara tak wajar.

Entah benar atau tidak, yang jelas:

kekayaan yang datang dari kegelapan selalu menuntut bayaran.
Dan seperti suara gagak yang memekik di malam sunyi, pesugihan ini mengingatkan bahwa di balik setiap janji kemewahan… selalu ada arwah yang menunggu bagian.


Pewarta: Ferdi Harahap

Editor : Dwi Siswanto
#perbuatan syirik dalam Islam #jawa timur #Ritual Pesugihan Sate Gagak #Kisah Pesugihan sate gagak #sate gagak