HALOJEMBER – Dalam rangka memperingati Hari Kebaya Nasional ke-3 yang diperingati setiap 24 Juli, Komunitas Kebayak'an Jember berkolaborasi dengan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember (FIB Unej) menyelenggarakan rangkaian kegiatan bertema Funwalk berkebaya dgn rajutan kasih dalam bingkai budaya nusantara. Kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi antara berbagai komunitas, akademisi, pelaku seni, pelaku UMKM, dan masyarakat untuk menumbuhkan kembali kecintaan terhadap kebaya sebagai identitas bangsa. Acara di dukung oleh berbagai sponsor dari berbagai macam produk dan jasa sehingga dapat terwujud peringatan hari kebaya ini dilengkapi dengan pemeriksaan kesehatan gratis hingga service sepedah motor gratis.
Rangkaian kegiatan diawali dengan Fun Walk Berkebaya yang mengambil rute mengelilingi kawasan Universitas Jember. Ratusan peserta dari berbagai komunitas perempuan di Kabupaten Jember tampak antusias mengikuti kegiatan ini. Mulai dari anak-anak, remaja, hingga perempuan dewasa dan lansia berjalan bersama mengenakan aneka model kebaya dengan warna-warni yang memanjakan mata.
Suasana semakin menarik ketika para peserta memadukan kebaya dengan topi, kacamata, dan sepatu kets. Perpaduan tersebut menghadirkan gaya kasual yang tetap anggun dan bersahaja, sekaligus membuktikan bahwa kebaya mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai dan keindahannya. Kegiatan ini menjadi bukti bahwa kebaya tidak hanya layak dikenakan pada acara resmi atau seremonial, tetapi juga nyaman digunakan dalam kegiatan nonformal, termasuk aktivitas olahraga ringan seperti jalan sehat.
Setelah fun walk, peserta disuguhi berbagai penampilan seni yang dibawakan oleh anggota Komunitas Kebayak'an Jember. Salah satu yang menjadi perhatian adalah Tari Lahbako, tarian khas Kabupaten Jember yang menggambarkan proses panen tembakau sebagai salah satu komoditas unggulan daerah. Penampilan tersebut menjadi pengingat bahwa budaya lokal merupakan bagian penting dari identitas masyarakat Jember yang patut terus dijaga dan diwariskan.
Kemeriahan berlanjut dengan penampilan ibu-ibu Dharma Wanita Persatuan Universitas Jember yang membawakan lagu Warung Pojok dan Kopi Dangdut. Lagu-lagu bernuansa khas Indonesia tersebut berhasil menciptakan suasana penuh keakraban dan kegembiraan, sekaligus memperlihatkan bahwa pelestarian budaya dapat dikemas secara menarik dan menghibur.
Panggung peringatan Hari Kebaya Nasional juga menampilkan beragam talenta anggota Komunitas Kebayak'an Jember, mulai dari penampilan vokal yang diiringi musik band hingga kolaborasi fashion show bersama Paguyuban Gus Ning Jember. Berbagai model kebaya dari beragam daerah dengan motif, warna, dan jenis kain tradisional diperagakan secara elegan, memperlihatkan kekayaan wastra Nusantara yang begitu beragam sekaligus menunjukkan bahwa kebaya tetap relevan dikenakan oleh seluruh generasi.
Selain hiburan, kegiatan ini juga menghadirkan sesi edukasi budaya yang disampaikan oleh Wakil Dekan III Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember, Dr. Eko Suwargono, M.Hum. Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan sejarah panjang kebaya beserta nilai-nilai filosofis yang terkandung di dalamnya. Ia juga mengulas perjalanan kebaya hingga ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO, sebuah pengakuan dunia yang semakin menegaskan pentingnya menjaga dan melestarikan kebaya sebagai identitas budaya Indonesia.
Selaku Ketua Dharmawanita Persatuan Fakultas Ilmu Budaya Ibu Weny Pudyastuti, S.S., menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut.
"Peringatan Hari Kebaya di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember merupakan kegiatan yang luar biasa. Melalui kegiatan ini kita merawat budaya bangsa melalui busana di tengah maraknya gempuran budaya asing. Kegiatan semacam ini penting dan perlu terus dibudayakan."
Sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian kebaya, kegiatan ini juga dimeriahkan dengan garage sale kebaya.Berbagai koleksi kebaya, dijual dengan harga terjangkau sehingga masyarakat memiliki kesempatan lebih luas untuk memiliki dan mengenakan kebaya. Konsep ini mengusung semangat berbagi dan pemanfaatan kembali (reuse), sehingga kebaya tidak hanya disimpan di lemari, tetapi dapat terus digunakan oleh lebih banyak orang. Dengan demikian, pelestarian kebaya diwujudkan melalui langkah sederhana yang berdampak nyata terhadap keberlanjutan budaya.
Acara juga diramaikan oleh berbagai pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang menghadirkan produk-produk lokal, mulai dari kuliner, kerajinan tangan, aksesori kebaya, hingga berbagai hasil karya ekonomi kreatif masyarakat. Kehadiran UMKM menjadi bukti bahwa pelestarian budaya tidak hanya berdampak pada aspek sosial dan pendidikan, tetapi juga mampu menggerakkan roda perekonomian masyarakat. Kebaya menjadi bagian dari ekosistem ekonomi kreatif yang melibatkan kuliner, penjahit, pembatik, perancang busana, pengrajin aksesori, hingga pelaku usaha lokal.
Ketua Panitia, Nieka Kharisma Arofah, M.Socio., menegaskan bahwa melestarikan kebaya tidak selalu harus dilakukan melalui kegiatan besar.
"Melestarikan kebaya dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana, seperti membiasakan mengenakan kebaya pada acara tertentu, mencoba memadukan kebaya kasual dalam aktivitas sehari-hari, mengenalkan kebaya kepada anak-anak dan generasi muda, serta mendukung para pelaku industri kreatif yang bergerak di bidang kebaya maupun kain tradisional. Dari kebiasaan kecil itulah kecintaan terhadap budaya akan terus tumbuh."
Sementara itu, Nanik Indra Pujiastuty, S.E., menyampaikan bahwa mencintai kebaya merupakan bentuk penghormatan terhadap para leluhur sekaligus wujud nyata cinta kepada tanah air.
"Mencintai kebaya adalah bentuk penghormatan kepada warisan leluhur sekaligus wujud rasa cinta kepada Indonesia. Dengan mengenakan kebaya, kita turut menjaga identitas budaya bangsa agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman."
Founder Komunitas Kebayak'an Jember, Dra. Umi Chusnul Chotimah, menambahkan bahwa peringatan Hari Kebaya Nasional merupakan momentum penting untuk memperkuat komitmen bersama dalam melestarikan budaya bangsa.
"Peringatan Hari Kebaya Nasional menjadi momentum untuk mengingatkan bahwa melestarikan budaya adalah tanggung jawab bersama. Kolaborasi antara Komunitas Kebayak'an Jember dan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember membuktikan bahwa kebaya tetap relevan di setiap zaman. Kebaya mampu hadir dalam berbagai aktivitas, diterima oleh semua generasi, serta menjadi ruang kolaborasi yang menyatukan budaya, pendidikan, kreativitas, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat."
Peringatan Hari Kebaya Nasional ke-3 di Jember membuktikan bahwa kebaya bukan sekadar busana tradisional, melainkan simbol identitas bangsa yang mampu menyatukan berbagai kalangan. Melalui kolaborasi antara komunitas, perguruan tinggi, organisasi perempuan, pelaku seni, pelaku UMKM, dan generasi muda, kegiatan ini menjadi gerakan budaya yang menghidupkan kembali kecintaan masyarakat terhadap kebaya sekaligus memperkuat ekonomi kreatif berbasis warisan budaya Indonesia.
"Kebaya bukan sekadar selembar kain yang dikenakan di tubuh, melainkan simbol perjalanan sejarah, identitas, martabat, dan karakter perempuan Indonesia. Di setiap helainya tersimpan nilai kesederhanaan, keanggunan, ketangguhan, serta kecintaan terhadap budaya bangsa. Selama masih ada generasi yang bangga mengenakannya, kebaya akan terus hidup sebagai warisan yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan Indonesia."
Kegiatan ini juga mendapat dukungan penuh dari Ketua Dharma Wanita Persatuan Universitas Jember Ibu Wiwin Iwan Taruna yang turut hadir beserta jajaran pengurus mengikuti rangkaian acara. Kehadiran Dharma Wanita Persatuan Universitas Jember menjadi wujud nyata sinergi antara perguruan tinggi, organisasi perempuan, dan komunitas dalam upaya melestarikan kebaya sebagai warisan budaya bangsa. Partisipasi tersebut semakin memperkuat semangat kebersamaan serta menunjukkan bahwa pelestarian budaya merupakan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat.
Memperingati Hari Kebaya Nasional ke-3 di Jember diharapkan menjadi awal dari semakin banyak gerakan pelestarian kebaya yang lahir dari masyarakat. Dengan semangat gotong royong, kolaborasi, dan rasa bangga terhadap budaya sendiri, kebaya akan terus dikenakan, dicintai, dan diwariskan kepada generasi penerus sebagai identitas bangsa Indonesia yang tetap lestari di tengah arus globalisasi.
Editor : Viona Rj