Halo Jember – Universitas dr. Soebandi (UDS) kembali mengembangkan inovasi di bidang teknologi kesehatan. Kali ini, tim peneliti Fakultas Ilmu Kesehatan UDS menciptakan INOMI-Patch Maker (Inovasi Microneedle Forming Patch Maker), alat yang dirancang untuk membantu penelitian dan pengembangan microneedle patch.
Alat tersebut dikembangkan untuk menghasilkan cetakan microneedle dengan berbagai bentuk dan ukuran pada skala mikro. Kehadirannya diharapkan dapat membantu peneliti menghasilkan cetakan yang lebih presisi dan konsisten.
Ketua tim peneliti Edi Susanto, S.Farm., mengatakan, pengembangan INOMI-Patch Maker berangkat dari kebutuhan peneliti terhadap alat pencetak microneedle dengan tingkat ketelitian tinggi. Sebab, microneedle memiliki struktur jarum berukuran sangat kecil sehingga membutuhkan proses pencetakan yang presisi.
“INOMI-Patch Maker sangat dibutuhkan dalam pengembangan riset microneedle patch karena mampu menghasilkan cetakan dengan ukuran dan struktur pada skala mikro,” jelas Edi.
Tim peneliti tersebut juga melibatkan apt. Nur Adriani, S.Farm., dengan pendampingan Mohammad Rofik Usman, M.Si. Alat ini difungsikan sebagai supporting tools untuk penelitian teknologi penghantaran obat (drug delivery) berbasis microneedle patch.
Menurut Edi, kemampuan mencetak berbagai bentuk dan ukuran microneedle membuat proses desain hingga optimasi penelitian dapat dilakukan lebih efisien. Selain itu, peneliti juga dapat menghasilkan cetakan sesuai desain yang telah dirancang.
Pengembangan alat tersebut sekaligus menjawab persoalan biaya peralatan pencetakan microneedle yang relatif mahal serta ketergantungan terhadap teknologi impor. INOMI-Patch Maker dikembangkan sebagai inovasi dalam negeri yang dapat digunakan untuk menunjang kebutuhan riset.
“Sebagai salah satu inovasi yang dikembangkan di Indonesia dan satu-satunya inovasi dalam negeri di tingkat nasional yang secara khusus dikembangkan untuk kebutuhan riset microneedle patch, alat ini memiliki potensi mengurangi ketergantungan terhadap teknologi dari luar negeri,” ujarnya.
Dia berharap INOMI-Patch Maker dapat memperkuat ekosistem penelitian microneedle patch di Indonesia. Peneliti juga diharapkan dapat melakukan desain, pencetakan, dan optimasi mold secara lebih mandiri, cepat, dan efisien.
Inovasi tersebut menjadi salah satu upaya UDS dalam mendorong pengembangan teknologi kesehatan sekaligus memperkuat kemandirian riset di dalam negeri.(ika/yul)
Editor : Yulio Faruq Akhmadi