
HALO JEMBER - Dulu Ibu sering mengajak saya mengikuti kebaktian di gereja. Tetapi, setelah dia memeluk agama Islam lalu bercerai dengan Ayah, saya diajaknya ke majlis ta’lim untuk mendengar wejangan dan tausiyah yang seringkali disampaikan oleh Ustaz Syihab. Sesekali saya dapat menangkap kesejukan yang dirasakan Ibu saat mendengar ajaran-ajaran agama, begitu pun saya membaca raut mukanya saat mendengar khotbah pendeta pada hari Paskah, saat ia masih memeluk agama Kristen.
Suatu hari, ketika saya melakukan sesuatu yang dianggap serius oleh Ibu, karena kedekatan hubungan dengan Putu Yuli pacar saya, Ibu menyuruh saya agar menemui Ustaz Syihab. Saya diperintahkan agar mempersiapkan amplop di kantong, lalu setelah sang ustaz memberikan nasehat agama, saya akan memberikan amplop tersebut ketika berpamitan di ambang pintu rumahnya.
Namun, setelah saya menempuh perjalanan dengan motor selama seperempat jam menuju rumahnya, sang istri mengabarkan, bahwa Ustaz Syihab sedang memeriksa pembangunan masjid yang sedang direhabilitasi. Letak masjid tampaknya tak terlalu jauh dari rumahnya, hingga saya bergegas menuju masjid yang tertera tulisan Arab di depannya “Masjid Al-Furqan”.
Baca Juga: Buku Tamu Misterius, Cerpen Karya Muhamad Muckhlisin
Di depan sang Ustaz nanti, saya bertekad akan membeberkan segala kesalahan dan dosa-dosa di masa lalu, terutama hubungan saya dengan Putu Yuli, seorang wanita Hindu berdarah Bali, yang selama beberapa tahun menjalin hubungan cinta dengannya. Saya berniat, setelah pengakuan dosa dan kesalahan, saya akan meminum segelas air putih yang telah dibacakan doa, hingga dapat dijamin, bahwa segala dosa akan diampuni dan dimaafkan Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Kubah masjid sudah tampak dalam pandangan mata. Jalanan masih becek tertutup oleh lumpur cokelat di musim penghujan. Tetapi, masa depan seakan sudah memancar dalam kalbu saya. Di sekeliling jalan, rumput-rumput hijau segar menembus akar-akar kering yang ditinggalkan sejak masa kemarau tahun lalu. Di sekitar got terdengar gemericik air kotor berbusa dari selokan-selokan sepanjang rumah penduduk. Serpihan jerami, bungkus-bungkus cemilan ikut terbawa arus air mengalir, berputar-putar dan menempel di buih-buih kotoran selokan.
Dalam waktu yang tak begitu lama, sampah-sampah itu akan masuk ke sungai, lalu dari sungai menuju laut, dan dari laut berakhir ke samudera yang maha luas. Saya mencoba membayangkan perjalanan panjang yang mengerikan itu, meski kemudian imajinasi saya terhenti sebelum mencapai ke luasnya lautan samudera.
Setelah memasuki gerbang masjid, saya disambut oleh seorang marbot yang mengenakan sarung dan kopiah hitam berukuran besar karena jidatnya yang jenong. Semula saya ingin menanyakan soal jidatnya yang menonjol tersebut, namun karena khawatir merasa tersinggung dan sakit hati, saya pun mengurungkan niat, dan entah kenapa, tiba-tiba saya dihinggapi rasa takut akan penghakiman Tuhan di akhirat nanti.
Halaman masjid masih becek bekas hujan lebat tadi malam. Selain marbot, tak ada seorang pun di sana. Ketika saya nyatakan ingin berjumpa dengan Ustaz Syihab, saya diantar menuju serambi kanan masjid yang masih dalam proses rehabilitasi. Ustaz Syihab membisikkan sesuatu ke telinga sang marbot agar saya diantar menuju pintu utama masjid, lalu menunggu di ruang dalam.
Ketika memasuki masjid, ternyata di sana sudah menunggu seorang pemuda sekitar 25 tahun, lebih muda dari saya, mengenakan kemeja batik dan kopiah, yang tampaknya sama-sama sedang menunggu kedatangan Ustaz Syihab. Kami melangkah ke arahnya, dan entah kenapa tiba-tiba saya diliputi rasa berdosa seakan-akan saya adalah makhluk yang tak berguna.
Saya menyalami pemuda itu, lalu melihat-lihat sekeliling ruangan masjid, berikut segala macam perabot dan aksesorisnya. Ada lemari berkaca tempat menyimpan sajadah dan mukena yang terletak di pojok bagian kiri, sementara bagian kanannya terdapat bupet yang berjejer di atasnya ratusan Alquran dalam berbagai bentuk dan ukuran. Hal yang tak kalah menarik adalah kaligrafi besar di dinding kanan bertuliskan lafaz “Allah” sedangkan di dinding kiri lafaz “Muhammad”.



