HALO JEMBER - Pelet, gendam, dan ilmu pengasihan tradisional sering dianggap sama, padahal tiap istilah memiliki tujuan dan metode yang berbeda.
Pelet bertujuan menanam rasa cinta atau kerinduan pada target tertentu, biasanya lewat media bulu perindu, minyak pengasihan, foto, atau makanan.
Mantra atau jimat “ditanam” ke media itu, lalu diyakini ditransfer ke target sehingga emosinya terpengaruh.
Risiko pelet cukup besar: manipulasi perasaan, ketergantungan pengguna, serta penipuan tarif tinggi oleh praktisi gaib.
Gendam berbeda jauh, karena sasarannya bukan cinta melainkan kendali kesadaran sesaat demi keuntungan materi.
Pelaku memakai tatapan, sentuhan, atau sugesti verbal cepat menyerupai hipnosis non‑medis.
Korban yang tersugesti bisa diminta menyerahkan uang atau barang tanpa sadar sepenuhnya.
Secara hukum, gendam dikategorikan tindakan kriminal dan pelakunya dapat dipidana jika terbukti menipu atau mencuri.
Ilmu pengasihan tradisional, seperti ajian karismatik atau peningkat aura, lebih menekankan disiplin batin.
Pelakunya menjalani puasa, meditasi, atau laku tapa untuk “menjernihkan energi” sehingga memancarkan daya tarik alami.
Tidak menarget satu orang tertentu, melainkan meningkatkan kepercayaan diri dan relasi sosial secara umum.
Risikonya relatif rendah, kecuali jika praktik dijalankan ekstrem atau salah tafsir ajaran.
Memahami perbedaan ketiga istilah penting agar masyarakat tak terjebak iklan samar yang menggabungkan semuanya demi keuntungan.
Pelet memaksa rasa cinta dan menabrak etika, gendam merugikan korban secara ekonomi, sedangkan pengasihan tradisional berfokus pada perbaikan diri.
Baca Juga: Tanda-Tanda Seseorang Terkena Pelet, Salah Satunya Tiba-Tiba Tergila-gila
Hubungan yang sehat tetap lahir dari persetujuan sadar dua pihak, bukan melalui manipulasi gaib. Baca Juga: Mengungkap Khasiat Binahong, Daun Hijau yang Baik untuk Kulit Sehat
Penulis MG25 Ailatul Miza Zulfa
Editor : Dwi Siswanto