Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Suwar Suwir

Kembalinya Lebah Serangga Raksasa Wallace, Megachile pluto dari Hutan Maluku Utara

Dwi Siswanto • Sabtu, 20 Desember 2025 | 00:47 WIB
Lebah Raksasa diambil dari website citizenriau24
Lebah Raksasa diambil dari website citizenriau24

Halo Jember - Di hutan Maluku Utara, ada satu makhluk kecil tapi sama sekali tidak “kecil” yang membuat para ilmuwan seperti sedang bermain petak umpet selama lebih dari satu abad.

Namanya Lebah Raksasa Wallace (Megachile pluto), serangga hitam berahang besar yang ukurannya bisa menyamai ibu jari orang dewasa. Begitu besar sampai banyak peneliti menjulukinya “bulldog terbang”.

Makhluk langka ini pertama kali dicatat pada abad ke-19 oleh Alfred Russel Wallace, penjelajah yang menjelajahi Kepulauan Maluku saat sedang menyusun pemikiran tentang evolusi.

Setelah itu, lebah ini menghilang seperti legenda. Puluhan tahun berlalu tanpa satu pun penampakan yang bisa diverifikasi.

Lalu, pada 1981, Adam Messer menemukan beberapa sarangnya di Bacan dan pulau sekitar. Ia mendapati fakta unik bahwa lebah ini menggantungkan hidupnya pada gundukan rayap di pohon.

Rahangnya yang menyerupai milik kumbang rusa ternyata digunakan untuk mengeruk resin dari pepohonan lain, yang kemudian dipakai sebagai pelindung sarang agar rayap tidak menyerbu.

Namun setelah kemunculan Messer, spesies ini kembali tenggelam dalam misteri. Bahkan sebagian ilmuwan menduga Megachile pluto sudah punah.

Saking langkanya, dua spesimen pernah muncul di situs lelang pada 2018 dan langsung membuat khawatir para konservasionis.

Baru pada 2019, teka-teki panjang itu pecah. Sebuah tim yang terdiri dari peneliti internasional dan pemandu lokal menelusuri hutan Maluku Utara selama berhari-hari.

Menjelang akhir ekspedisi, mereka menemukan seekor betina hidup dalam sarang rayap di batang pohon. 

Penemuan itu menjadi pembuktian penting: lebah terbesar di dunia belum hilang, hanya sangat sulit ditemui.

Ukurannya bisa mencapai empat kali lebah madu, dengan bentang sayap sekitar enam sentimeter.

Betina jauh lebih besar daripada jantan, dan hanya mereka yang memiliki rahang besar untuk bekerja membangun sarang.

Namun kabar baik tersebut datang bersama peringatan. Habitat utama lebah ini yaitu hutan Maluku Utara terus tergerus.

Selain itu, ukurannya yang mengesankan membuatnya diincar kolektor, sementara perlindungan hukum terhadap spesies ini masih minim.

Megachile pluto kini menjadi simbol bahwa keanekaragaman hayati Indonesia masih menyimpan kejutan besar.

Setiap kemunculannya memberi harapan baru bagi penelitian, konservasi dan mengingatkan bahwa banyak makhluk unik bisa lenyap sebelum kita sempat benar-benar mengenalnya.

Penulis: Tazyinatul Ilmiah 

Editor : Dwi Siswanto
#Keanekaragam Hayati #lebah raksasa #wallace #maluku utara #Megachile pluto