"Cinta sejati bukanlah tentang kesempurnaan fisik atau kondisi, melainkan tentang kehadiran, pengertian, dan dukungan tanpa batas, Tuhan memberiku untukmu, dan kamu untukku, dan aku jatuh cinta padamu melalui kasihNYA.”
Tifa membiarkan dirinya terhanyut dalam kenangan bersama Andalas. Dia merenungkan tentang cinta yang pernah terasa begitu nyata, tentang kehilangan yang menyisakan luka, dan tentang harapan yang masih membara di dalam hatinya. Meskipun telah menjalani lima tahun sebagai seorang jomblo,Tifa tetap memelihara keyakinan bahwa cinta sejati akan kembali menemuinya.
Perjalanan Tifa menuju Manado Tua, Siladen, Mantehage, dan Naen semakin menarik setelah di pemberhentian terakhir di Taman Nasional Bunaken. Perjalanan yang akan menjadi awal hatinya mulai mencair dengan kehadiran Andalas, dan ini dinamakan proses jatuh cinta setelah mati rasa bertahun-tahun. Ketika syaraf cintanya tidak lagi membeku dan berdenyut saat bertatap awal pertama dengan Andalas.
Permintaan Andalas untuk dicium membuat wajah Tifa memerah seperti tomat ceri yang tersisa di kulkasnya. Matanya yang penuh cinta dan rasa haru mencerminkan kehangatan yang terpancar dari dalam hatinya. Meskipun momen itu singkat, namun kehadiran Andalas dan kata-katanya memenuhi ruang dapur dengan keintiman yang tak terlupakan.
"Aku sayang kamu."
"Mi manchi?"
"Apa?"
"Hiduplah dengan baik."
"Tentu!"
"Aku pun mau."
Andalas mulai mendekat dan membisikkan kalimat itu perlahan di telinga kananku.
"Mau apa?" sahutku
"Mau dicium."
Dan cemara-cemara yang tumbuh di sekitar mereka menjadi saksi dari kejujuran apa yang kami lakukan berdua, dengan hanya Tuhan yang menjadi saksi kebersamaan kami.
Andalas sudah terbang kembali ke kotanya.
Andalas berpamitan namun pesawat delay hampir 1,5 jam lamanya.
"Aku sayang kamu."
"Mi manchi?"
"Apa?"
"Hiduplah dengan baik."
"Tentu!"
Editor : Halo Jember