Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Perbedaan Penetapan Idul Fitri antara NU, Muhammadiyah, dan Arab Saudi

Halo Jember • Rabu, 26 Maret 2025 | 14:00 WIB
Ilustrasi perayaan Idul Fitri
Ilustrasi perayaan Idul Fitri

HALOJEMBER- Umat Islam di seluruh dunia merayakan Idul Fitri sebagai penutup bulan suci Ramadan. Penetapan Hari Raya Idul Fitri seringkali berbeda antara NU dan Muhammadiyah.

Perbedaan ini terkait dengan cara dan standar yang digunakan untuk menentukan awal bulan Hijriah.

Metode Penetapan NU dan Muhammadiyah

NU dan Muhammadiyah, dua organisasi Islam terbesar di Indonesia, memiliki pendekatan berbeda dalam menetapkan awal bulan Hijriah:​

Nahdlatul Ulama (NU): NU menggunakan hisab (perhitungan astronomi) dan rukyat. Mereka menetapkan awal bulan baru jika hilal dapat dilihat pada hari ke-29 Ramadan setelah matahari terbenam. Jika tidak, bulan Ramadan digenapkan selama 30 hari.

Muhammadiyah: Untuk mengetahui posisi bulan, Muhammadiyah menggunakan metode hisab wujudul hilal, yang merupakan perhitungan astronomi. Menurut metode ini, jika posisi bulan berada di atas ufuk pada saat maghrib, meskipun hilal tidak terlihat, maka malam itu sudah dianggap masuk 1 Syawal.

Perbedaan dalam menentukan hilal ini seringkali menimbulkan perbedaan tanggal perayaan Idul Fitri antara kedua organisasi Islam ini.

Kriteria MABIMS dan Pelaksanaannya

Untuk menentukan awal bulan Hijriah, pemerintah Indonesia dan negara-negara anggota MABIMS (Menteri-Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) menetapkan kriteria imkanur rukyat.

Kriteria ini memerlukan ketinggian hilal minimal 3 derajat dan elongasi (jarak antara bulan dan matahari) minimal 6,4 derajat.

Sementara NU biasanya mengikuti kriteria ini saat menetapkan awal bulan, Muhammadiyah masih menggunakan hisab wujudul hilal.

Selain itu, perbedaan kriteria ini berkontribusi pada perbedaan tanggal Idul Fitri antara keduanya. ​

Penetapan Ramadhan di Arab Saudi

Untuk menentukan awal bulan Hijriah, Arab Saudi menggunakan metode rukyat. Mereka melakukan pengamatan hilal pada hari ke-29 Ramadan.

Jika hilal terlihat, itu adalah 1 Syawal, dan jika tidak, Ramadan digenapkan selama 30 hari.

Tanggal Idul Fitri di Arab Saudi mungkin berbeda dengan tanggal di negara lain karena perbedaan geografis dan cuaca. 

Karena metode dan standar yang berbeda-beda dalam menentukan awal bulan Hijriah, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, dan Arab Saudi memiliki perbedaan dalam menetapkan Idul Fitri.

Namun, perbedaan ini bukan hal yang bisa menimbulkan konflik. Sebaliknya, harus dipahami sebagai bagian dari keragaman dalam praktik keagamaan. Untuk menjaga persatuan umat, toleransi dan saling menghormati diperlukan. ​

 

 Penulis: MG25 Ali Rido Mahbub

Editor : Halo Jember
#nu #lebaran #muhammadiyah #idul fitri #arab saudi