HALOJEMBER - Pertanyaan mengenai apakah mimpi merupakan kejadian nyata di dunia lain masih kerap muncul di tengah masyarakat.
Banyak orang mengaku mengalami mimpi yang terasa begitu nyata, seolah-olah benar-benar hidup di dunia berbeda.
Namun, para pakar menegaskan bahwa hingga kini belum ada bukti ilmiah yang menyatakan mimpi terjadi di “dunia lain”.
Dalam kajian ilmu saraf dan psikologi, mimpi dipahami sebagai aktivitas mental yang muncul saat seseorang berada dalam fase tidur tertentu, terutama fase tidur REM (Rapid Eye Movement).
Pada fase ini, otak bekerja aktif mengolah emosi, ingatan, serta imajinasi.
Aktivitas otak tersebut menciptakan rangkaian cerita, gambar, dan sensasi yang kemudian dirasakan sebagai mimpi.
Psikolog menjelaskan bahwa isi mimpi umumnya berkaitan erat dengan pengalaman sehari-hari, memori masa lalu, serta kondisi emosi seseorang.
Stres, kecemasan, kebahagiaan, hingga kejadian yang baru dialami dapat muncul kembali dalam bentuk simbolik saat tidur.
Hal inilah yang membuat mimpi sering terasa personal dan bermakna bagi yang mengalaminya.
Di sisi lain, berbagai kepercayaan dan budaya memaknai mimpi sebagai pesan batin, pertanda, atau pengalaman spiritual.
Meski makna tersebut memiliki nilai bagi individu maupun komunitas tertentu, secara ilmiah mimpi belum dapat dibuktikan sebagai perjalanan nyata ke dunia lain atau dimensi berbeda.
Pakar juga menjelaskan alasan mengapa mimpi terasa sangat nyata. Saat bermimpi, pusat emosi di otak cenderung lebih aktif, sementara bagian yang mengatur logika dan penilaian kritis melemah.
Akibatnya, hal-hal yang mustahil di dunia nyata terasa wajar saat terjadi di dalam mimpi. Sensasi ini dapat memicu reaksi fisik setelah terbangun, seperti jantung berdebar, rasa takut, atau perasaan lega.
Hingga saat ini, mimpi dipahami sebagai “realitas subjektif” yang diciptakan oleh otak saat tidur. Para ahli mengimbau masyarakat untuk memaknai mimpi secara bijak boleh dijadikan bahan refleksi diri, tetapi tidak perlu dianggap sebagai kejadian nyata di dunia lain tanpa dasar ilmiah.
Editor : Harry Erje