HALOJEMBER - Istilah hopeless romantic semakin sering digunakan untuk menggambarkan individu yang memiliki pandangan romantis terhadap cinta dan hubungan.
Fenomena ini banyak ditemui di kalangan remaja hingga dewasa muda, seiring meningkatnya paparan konten romansa di media sosial dan hiburan populer.
Hopeless romantic merujuk pada seseorang yang mudah terbawa perasaan dalam urusan cinta, percaya pada kisah romantis, dan cenderung mengidealkan pasangan maupun hubungan.
Sikap ini membuat seseorang tulus dalam mencintai, namun di sisi lain berpotensi menimbulkan kekecewaan jika realitas tidak sesuai harapan.
Pengamat sosial menyebutkan bahwa maraknya tayangan romansa di film dan serial turut membentuk cara pandang generasi muda terhadap cinta.
Karya populer seperti The Notebook dan serial Bridgerton sering dijadikan referensi romantisasi hubungan yang indah dan penuh drama.
Paparan berulang terhadap narasi semacam ini dapat memengaruhi ekspektasi seseorang terhadap hubungan di dunia nyata.
Di media sosial, konsep hopeless romantic juga ramai diperbincangkan melalui unggahan di platform seperti TikTok dan Instagram.
Banyak pengguna membagikan pengalaman jatuh cinta, patah hati, hingga harapan menemukan “cinta sejati”, yang memperkuat identitas hopeless romantic sebagai bagian dari gaya hidup emosional anak muda.
Psikolog menilai bahwa menjadi hopeless romantic tidak selalu berdampak negatif. Sisi positifnya, individu cenderung empatik, penuh perhatian, dan berani mengekspresikan perasaan.
Namun, mereka juga disarankan untuk tetap realistis, menetapkan batasan yang sehat, serta membangun hubungan berdasarkan komunikasi dan saling menghargai, bukan semata ekspektasi romantis.
Dengan meningkatnya kesadaran akan kesehatan mental dan hubungan yang sehat, fenomena hopeless romantic kini mulai dipahami secara lebih seimbang.
Bukan sekadar tentang mengidealkan cinta, tetapi juga tentang belajar mencintai dengan bijak dan realistis di tengah dinamika hubungan modern.
Editor : Viona Rj