HALO JEMBER - Setiap bulan Juli, bumi mengalami fenomena astronomi yang dikenal sebagai Aphelion, yaitu saat Bumi berada pada jarak terjauh dari Matahari.
Tahun ini, fenomena aphelion terjadi pada Jumat, 5 Juli 2024, pukul 12.06 WIB. Pada momen ini, jarak dari pusat bumi ke pusat matahari mencapai sekitar 152.099.969 km.
Apa Itu Aphelion?
Aphelion adalah peristiwa tahunan ketika Bumi mencapai titik terjauh dalam orbit elipsnya mengelilingi Matahari. Biasanya, peristiwa ini terjadi pada awal bulan Juli.
Jarak Bumi dari Matahari pada saat Aphelion sekitar 152.099.969 km, sedikit lebih jauh dibandingkan jarak rata-rata yang sekitar 149.597.870,7 km. Walaupun jarak ini berubah, Aphelion tidak memiliki dampak signifikan terhadap suhu di Bumi karena perbedaan jarak ini tidak cukup besar untuk mempengaruhi suhu secara langsung.
Penyebab Aphelion
Fenomena Aphelion disebabkan oleh orbit elips Bumi yang memiliki kelonjongan sekitar 1/60. Bentuk orbit ini menyebabkan Bumi berada di titik terjauh (Aphelion) dan terdekat (perihelion) dari Matahari secara bergantian sepanjang tahun.
Dampak Aphelion
Ida Pramuwardani, Ketua Tim Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca BMKG, menjelaskan bahwa fenomena Aphelion tidak mempengaruhi cuaca secara signifikan.
Pada saat Aphelion, diameter Matahari tampak lebih kecil sekitar 1,68 persen atau kurang lebih 15,73 menit busur. Namun, hal ini tidak berdampak pada perubahan suhu atau cuaca di Bumi.
BMKG telah membantah klaim yang beredar di media sosial yang menghubungkan cuaca dingin di Indonesia dengan fenomena Aphelion.
Cuaca dingin yang terjadi di Indonesia pada periode bulan Juli sebenarnya merupakan fenomena alamiah yang umum terjadi pada puncak musim kemarau (Juli-September).
Pada periode ini, angin dari arah timur-tenggara yang berasal dari Benua Australia, yang sedang mengalami musim dingin, bergerak menuju Indonesia.
Angin ini, yang dikenal sebagai Monsoon Dingin Australia, membawa massa udara dingin yang melewati perairan Samudra Hindia yang juga memiliki suhu permukaan laut yang lebih dingin.
BMKG juga menjelaskan bahwa berkurangnya awan dan hujan di Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara turut berkontribusi pada suhu dingin di malam hari. Baca Juga: Cabut Gigi Bisa Berdampak pada Kesehatan Mata, Mitos atau Fakta?
Dengan demikian, fenomena Aphelion yang terjadi setiap tahun pada bulan Juli ini tidak berdampak langsung pada cuaca dan suhu di Bumi. Fenomena ini hanya menandakan posisi Bumi yang berada di titik terjauh dari Matahari dalam orbitnya.
Editor : Halo Jember