HALO JEMBER – Ferry Irwandi, aktivis sekaligus founder MALAKA project, menyatakan bahwa pelacakan dalang di balik demonstrasi yang berujung kerusuhan pada Agustus lalu tidaklah sulit dilakukan.
Dengan memanfaatkan jejak digital sederhana melalui google ataupun media sosial seperti Tiktok, ia mengatakan aparat bisa menemukan akun penyebar provokasi hanya dalam waktu lima menit saja.
Klaim ini ia sampaikan dalam program iNews “Rakyat Bersuara” dengan tema “Aksi Massa, Siapa Berada di Baliknya?” yang diunggah melalui kanal YouTube iNews, bernama Official iNews, pada Selasa (2/9).
Ferry, yang menyandang gelar doktoral di bidang analisis data Monash University, Australia, menjelaskan adanya metode data analytics, scraping, dan open source intellegence (OSINT) yang dapat dimanfaatkan.
Namun, ia memberikan cara sederhana yang bisa dilakukan aparat.
Cukup dengan pencarian berbasis data digital berupa kata kunci dan tanggal, aparat sudah bisa menelusuri akun-akun yang pertama kali menyebarkan narasi provokasi.
Ia mencontohkan dengan mencari kata kunci #BubarkanDPR yang ramai menjelang 25 Agustus 2025.
Menurutnya, dari titik tersebut bisa terlihat siapa aktor awal yang mendorong terjadinya kerusuhan tersebut.
Lebih jauh, Ferry menekankan bahwa analisis semacam ini tidak serta merta menjadikan akun yang ditemukan sebagai pelaku utama. Tetapi, hasilnya bisa menjadi bahan awal untuk investigasi.
“Dari situ aparat bisa cari tahu, bisa tracking. Bukan berarti mereka ( pemilik akun ) pelakunya tapi mereka bisa jadi orang-orang yang diperiksa nantinya. Dari situ, aliran dana bisa dilihat. Setidaknya ada satu jalur yang kebuka,” ujar Ferry, dikutip dari YouTube Official iNews.
Ia bahkan menyebut bahwa jika klaim ini tidak terbukti, dirinya siap menanggung konsekuensi hukum.
“Kalau ternyata benar-benar nggak ketemu, ah ini Cuma kebetulan ribuan orang, saya siap menanggung konsekuensinya. Saya bicara di TV nasional, dipenjara bukan hal yang menakutkan buat saya,” tandasnya.
Penulis: Fida Nurfauziah Mufiana
Editor : Dwi Siswanto