Halojember – Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengingatkan bahwa era perang modern sudah berlangsung dan Indonesia tidak boleh berpikir seolah-olah akan terbebas dari dampaknya.
Pernyataan itu disampaikan dalam kuliah umum di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas), Jakarta, Senin (23/2).
Dalam paparannya, SBY menegaskan bahwa perubahan tatanan dunia bergerak cepat dan semakin kompleks.
Polarisasi kekuatan global, rivalitas negara besar, serta konflik terbuka di berbagai kawasan menjadi sinyal bahwa stabilitas internasional sedang tidak baik-baik saja.
Menurutnya, dalam dunia yang saling terhubung seperti sekarang, mustahil sebuah negara merasa sepenuhnya aman dari imbas konflik global.
“Jangan berpikir Indonesia tidak akan terlibat atau tidak terdampak. Dunia sekarang saling terkoneksi,” tegasnya di hadapan peserta pendidikan Lemhannas.
SBY menjelaskan bahwa karakter perang telah berubah. Jika dulu konflik identik dengan pengerahan besar-besaran pasukan darat, kini perang modern mengandalkan teknologi tinggi, presisi serangan jarak jauh, dan dominasi udara.
Ia menekankan pentingnya kekuatan udara atau air power dalam sistem pertahanan nasional, karena serangan dapat terjadi cepat dan menghantam pusat-pusat strategis negara.
Ia bahkan melontarkan ilustrasi hipotetis bagaimana jika ibu kota dan fasilitas pertahanan strategis diserang dari udara.
Pertanyaan itu, kata dia, bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk menguji kesiapan berpikir strategis dalam menghadapi ancaman nyata di era modern.
Selain aspek militer, SBY juga menyoroti posisi Indonesia di tengah dinamika geopolitik global.
Dunia yang semestinya bergerak menuju tatanan multipolar, menurutnya, masih diwarnai persaingan kekuatan besar yang ingin mempertahankan dominasi.
Dalam situasi tersebut, Indonesia dituntut cermat membaca arah perubahan, memperkuat ketahanan nasional, serta menjalankan diplomasi yang aktif dan seimbang.
Kuliah umum tersebut menjadi refleksi sekaligus pengingat bahwa ketahanan negara tidak hanya bertumpu pada kekuatan fisik, tetapi juga pada strategi, doktrin, teknologi, dan kemampuan membaca perubahan zaman.
Editor : Yulio Faruq Akhmadi