Halojember – Pertahanan udara menjadi mata sekaligus benteng pertahanan di era perang modern.
Dengan kekuatan udara yang lemah, suatu negara dapat dengan mudah diluluhlantakkan.
Hal itulah yang dijelaskan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam kuliah umumnya di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas), Jakarta, Senin (23/2/2026).
Dalam paparannya, SBY menyoroti perubahan karakter peperangan yang kini bertumpu pada teknologi tinggi dan dominasi udara.
Serangan tidak lagi selalu diawali pergerakan pasukan darat, melainkan bisa datang cepat melalui rudal jarak jauh, pesawat tempur, hingga sistem persenjataan presisi yang menghantam pusat pemerintahan maupun instalasi strategis.
Ia kemudian mengajukan pertanyaan hipotetis untuk menggugah kesadaran peserta pendidikan Lemhannas: apa yang terjadi jika Jakarta diserang dari udara?
Bagaimana jika fasilitas pertahanan dan objek vital nasional menjadi sasaran dalam waktu singkat? Menurutnya, skenario itu harus dipikirkan secara serius sebagai bagian dari perencanaan strategis, bukan sekadar asumsi.
SBY menilai, jika kekuatan udara tidak siap, maka ruang respons negara menjadi sangat terbatas.
Pertahanan udara yang kuat berfungsi sebagai sistem deteksi dini, pencegat, sekaligus penangkal agar serangan tidak langsung melumpuhkan pusat kendali negara.
Karena itu, ia menekankan pentingnya memperkuat air power Indonesia.
Bukan hanya dari sisi jumlah alutsista, tetapi juga modernisasi teknologi radar, sistem pertahanan udara berlapis, kesiapan pesawat tempur, hingga integrasi komando antar matra.
Doktrin pertahanan pun harus menyesuaikan dengan ancaman modern yang bergerak cepat dan presisi.
“Kalau kita tidak siap di udara, maka kita akan sangat rentan. Pertahanan udara adalah kunci dalam perang modern,” tegasnya.
Selain kesiapan militer, SBY juga mengingatkan bahwa penguatan kekuatan udara harus disertai perencanaan jangka panjang, investasi pertahanan yang konsisten, serta pengembangan sumber daya manusia yang menguasai teknologi mutakhir.
Menurutnya, kedaulatan negara di era sekarang sangat ditentukan oleh kemampuan menjaga ruang udara nasional dari potensi ancaman.
Editor : Yulio Faruq Akhmadi