Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Musim Kemarau Disebut Datang Lebih Awal, BMKG Jelaskan Penyebab dan Potensi Risikonya

Yulio Rj • Kamis, 5 Maret 2026 | 14:06 WIB

 

BMKG sebut musim kemarau datang lebih cepat (Foto: Yulio/halojember)
BMKG sebut musim kemarau datang lebih cepat (Foto: Yulio/halojember)

Halojember – Isu musim kemarau yang disebut datang lebih awal pada 2026 ramai diperbincangkan dalam beberapa hari terakhir.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa kondisi tersebut berkaitan dengan pola peralihan musim yang mulai terjadi di sejumlah wilayah Indonesia.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG, Dwikorita Karnawati menjelaskan bahwa sebagian wilayah memang mulai mengalami penurunan intensitas hujan lebih cepat dibandingkan pola klimatologis biasanya.

Kondisi itu membuat beberapa daerah diperkirakan memasuki musim kemarau lebih awal.

Menurut dia, faktor utama yang memengaruhi percepatan tersebut adalah melemahnya aktivitas pembentukan awan hujan di beberapa kawasan Indonesia.

Perubahan suhu muka laut serta dinamika atmosfer juga turut memengaruhi pola curah hujan di wilayah tropis seperti Indonesia.

Meski demikian, BMKG menegaskan bahwa kemarau yang datang lebih awal tidak serta-merta menandakan terjadinya kondisi ekstrem.

Secara umum, pola iklim Indonesia pada 2026 masih berada dalam kategori normal tanpa indikasi kuat fenomena iklim besar seperti El Niño yang ekstrem.

Namun demikian, kemarau yang datang lebih cepat tetap berpotensi memicu sejumlah dampak.

Di antaranya penurunan ketersediaan air di wilayah rawan kekeringan, peningkatan suhu udara pada siang hari, hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan.

Karena itu, BMKG mengingatkan pemerintah daerah dan masyarakat untuk mulai melakukan langkah antisipasi sejak dini.

Terutama pada sektor pertanian dan pengelolaan sumber daya air yang paling terdampak saat musim kemarau berlangsung lebih panjang.

“Yang penting bukan panik, tetapi melakukan langkah mitigasi lebih awal,” ujar Dwikorita.

Editor : Yulio Faruq Akhmadi
#musim kemarau #bmkg #kemarahan