Halo Jember - Siapa sangka, wilayah yang dikenal dengan bukit-bukit kapur dan tanah kering ini justru menjadi lumbung jambu mete terbesar di Pulau Jawa. Bagi warga Wonogiri, mete bukan sekadar tanaman, tetapi simbol ketekunan dan sumber penghidupan yang mengubah lahan tandus menjadi ladang emas.
Budidaya jambu mete di Wonogiri mulai dikenal luas sejak masa Orde Baru, sekitar tahun 1980-an. Saat itu, pemerintah menetapkan Wonogiri sebagai salah satu sentra budidaya jambu mete di Jawa.
Langkah tersebut menjadi titik balik penting bagi pertanian lokal. Kondisi geografis Wonogiri yang cenderung kering dan berbukit ternyata sangat cocok untuk tanaman mete yang membutuhkan paparan sinar matahari dalam waktu lama.
Budidaya dilakukan secara masif di sejumlah wilayah seperti Jatiroto, Ngadirojo, dan Pracimantoro. Dari upaya inilah kemudian muncul lima kecamatan penghasil mete terbanyak di Wonogiri, yaitu Kecamatan Jatiroto, Ngadirojo, Sidoharjo, Jatisrono, dan Pracimantoro.
Setiap musim panen, hampir seluruh desa di wilayah ini dipenuhi aroma khas biji mete yang dijemur di halaman rumah. Produksi kacang mete dari wilayah ini bahkan bisa mencapai ribuan ton per tahun, menjadikan Wonogiri salah satu penghasil mete terbesar di Jawa Tengah.
Tanaman jambu mete tergolong musiman, berbuah sekali dalam setahun biasanya saat musim kemarau menjelang penghujan. Pada masa panen raya, harga mete bisa naik, meskipun tidak selalu signifikan. Namun, tingginya minat pasar tetap membuat komoditas ini stabil dan menguntungkan bagi petani.
Selain menjadi camilan favorit, jambu mete juga dikenal memiliki beragam manfaat kesehatan. Kandungan lemak tak jenuh tunggal dan ganda di dalamnya membantu menjaga kesehatan jantung dengan menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL) dan meningkatkan kolesterol baik (HDL).
Dengan rutin mengonsumsi kacang mete dalam porsi wajar, risiko penyakit jantung dapat berkurang.
Tidak hanya itu, kacang mete juga membantu menjaga berat badan ideal karena kaya akan protein dan serat yang membuat tubuh merasa kenyang lebih lama.
Kandungan antioksidan dan zinc di dalamnya mampu memperkuat sistem kekebalan tubuh, sementara vitamin E dan tembaga membantu membuat kulit tampak lebih glowing dan sehat.
Menariknya lagi, mete juga dikenal dapat mendukung kesehatan otak dan memperbaiki suasana hati. Kandungan magnesium dan asam lemak sehat di dalamnya berperan dalam meningkatkan fungsi otak serta menurunkan risiko stres dan depresi ringan.
Meski harganya sedikit lebih mahal dibandingkan camilan lain, kelezatan kacang mete Wonogiri tetap diminati wisatawan dan konsumen lokal. Kacang mete ini mudah ditemukan di berbagai toko oleh-oleh Wonogiri, bahkan kini banyak dijual secara daring.
Rasanya yang gurih dan khas menjadikannya buah tangan favorit dari wilayah selatan Jawa Tengah.
Menariknya, tak ada catatan pasti mengenai awal mula mete dijadikan oleh-oleh khas Wonogiri. Namun, para penggiat pertanian dan pelaku industri lokal sepakat bahwa era Orde Baru menjadi masa kebangkitan komoditas ini. Dari situ, mete perlahan menjadi identitas ekonomi baru Wonogiri.
Kini, jambu mete tak hanya menopang perekonomian masyarakat, tetapi juga menjadi bagian dari kebanggaan daerah. Dari tanah gersang yang dulu nyaris tak tergarap, lahirlah sebuah cerita tentang ketekunan, kerja keras, dan bagaimana masyarakat Wonogiri mampu memanfaatkan alam untuk kesejahteraan bersama.
Penulis: Agil Prasetyo