
Happy Ending Rasulullah
Banyak yang bilang bahwa orang baik
akan tergilas oleh zaman;
sebagian mengatakan orang pemaaf itu
akan terhempas oleh perubahan;
bahkan tidak sedikit orang berpendapat
sing alon ora kelakon sing sabar ora keduman.
Tetapi, dalam sepanjang sejarah kehidupannya,
Muhammad konsisten di jalan kebaikan dan kesabaran.
Memang zaman dan perubahan pernah menggilasnya;
ribuan orang dari kampung halaman pernah memusuhi,
mencaci-maki dan mengucilkan dirinya.
Berbagai upaya makar dan konspirasi
berupaya mengejar dan hendak membunuhnya.
Tetapi, Muhammad terus konsisten berjuang
demi menegakkan prinsip kebenaran dan keadilan.
Pernah pula dalam fase hidupnya
dilanda kekurangan pangan,
hingga mengais-kais tulang unta untuk dijadikan sop.
Seluruh keluarga dan saudara kerabatnya diboikot
di dunia perdagangan dan perniagaan,
hingga mereka jatuh terpuruk dalam kemiskinan.
Beberapa tahun setelah hijrah dari Mekah ke Madinah,
legitimasi kekuasaan berada di tangannya.
Muhammad mengerahkan puluhan ribu pasukan tempur
dengan persenjataan lengkap
pada peristiwa penaklukan Kota Mekah (Fathu Makkah).
Namun, beliau memilih memaafkan
dan mengampuni musuh dan lawan-lawan politiknya.
Jika menginginkan agar usianya dipanjangkan,
niscaya Allah mengabulkan permintaannya,
namun beliau tetap berada di koridor sunnatullah,
menerima ajal kematiannya di pembaringan
pada usia 63 tahun saja.
Di usia semuda itu, segalanya yang bersifat duniawi,
jika beliau mau, telah dapat diperolehnya.
Kekayaan ilmu, tahta, wanita,
bahkan kekayaan harta sebanyak apa pun dapat diraihnya.
Namun, Muhammad tetap memilih hidup bersahaja,
tanpa banyak meninggalkan warisan bagi anak-cucunya.
Karena menurutnya, kekayaan yang hakiki,
sejatinya bukanlah di alam dunia yang fana ini,
melainkan kelak di negeri akhirat
yang bersifat abadi dan sejati.
Puisi karya Hafis Azhari, Penulis novel Pikiran Orang Indonesia dan Perasaan Orang Banten.




