
Nasehat Mulyono
Wahai Anakku, sesungguhnya bangsa ini
tak ubahnya masyarakat Jahiliyah di era Muhammad,
yang masih sibuk menyembah berhala-berhala
dalam bentuk benda pusaka dan dewa-dewi leluhur,
bahkan kodok-kodok yang sengaja dipelihara
berkat petuah Sang Dukun dari gunung-gunung keramat.
Mereka mengaku menyembah Allah, bersyahadat,
bahkan berpolitik dengan rajin melakukan sembahyang.
Namun, percayalah Anakku,
kau masih bisa berkuasa dan memimpin mereka
yang masih sibuk memberhalakan harta-benda,
kenikmatan duniawi, dan keuntungan materialisme.
Sebab pendahulu kita, dapat berkuasa selama 32 tahun
dengan memanfaatkan para pakar dan akademisi Barat,
dengan bermodalkan tirakat dan bersemedi
dari satu gunung ke gunung lain.
Bahkan, bapakmu ini sanggup bekerja sama
dengan kekuatan kapitalisme lokal,
membentuk kabinet baru sambil merekrut mereka
yang berideologi dan berpandangan Baratsentris,
kemudian melompat lagi menerima tawaran hutang
dari para pemodal dan investor Cina.
Ya, ketahuilah Anakku,
selama kau mengikuti jejak bapakmu ini,
rajin mendengar kodok bertalu-talu di kegelapan malam,
mendengar petuah dan menuruti kemauan mereka,
maka kau akan sanggup memikul singgasana kekuasaan,
serta kembali mengikuti jejak langkah kami
dalam merekrut orang-orang yang masih menghamba
pada materialisme dan kapitalisme,
seberapa panjang pun jabatan dan titel mereka
sebagai pakar intelektualisme asing.
Jangan ragu-ragu, lompatlah seperti kodok, Anakku,
ingatlah petuah leluhur dan pendahulumu,
kau akan sanggup berkuasa selama bangsa ini
hanya mengandalkan rasionalitas,
diselubungi keangkuhan intelektual dan spiritual,
serta dibutakan dan dininabobokan
oleh program-program ekonomi-politik
dan kebudayaan yang cenderung Baratsentris,
serta lebih mengutamakan kenikmatan duniawi,
ketimbang kepentingan akhirat yang abadi dan sejati.
Puisi Hafis Azhari, Peneliti historical memory, pengarang novel Pikiran Orang Indonesia dan Perasaan Orang Banten.




