Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Nasehat Mulyono, Puisi Karya Hafis Azhari

Sidkin
Penulis: Sidkin❯
Ilustrasi puisi. (Ijal/AI/Halojember)
Ilustrasi puisi. (Ijal/AI/Halojember)

Advertisement

 

Nasehat Mulyono

Wahai Anakku, sesungguhnya bangsa ini
tak ubahnya masyarakat Jahiliyah di era Muhammad,
yang masih sibuk menyembah berhala-berhala
dalam bentuk benda pusaka dan dewa-dewi leluhur,
bahkan kodok-kodok yang sengaja dipelihara
berkat petuah Sang Dukun dari gunung-gunung keramat.
Mereka mengaku menyembah Allah, bersyahadat,
bahkan berpolitik dengan rajin melakukan sembahyang.
Namun, percayalah Anakku,
kau masih bisa berkuasa dan memimpin mereka
yang masih sibuk memberhalakan harta-benda,
kenikmatan duniawi, dan keuntungan materialisme.
Sebab pendahulu kita, dapat berkuasa selama 32 tahun
dengan memanfaatkan para pakar dan akademisi Barat,
dengan bermodalkan tirakat dan bersemedi
dari satu gunung ke gunung lain.
Bahkan, bapakmu ini sanggup bekerja sama
dengan kekuatan kapitalisme lokal,
membentuk kabinet baru sambil merekrut mereka
yang berideologi dan berpandangan Baratsentris,
kemudian melompat lagi menerima tawaran hutang
dari para pemodal dan investor Cina.
Ya, ketahuilah Anakku,
selama kau mengikuti jejak bapakmu ini,
rajin mendengar kodok bertalu-talu di kegelapan malam,
mendengar petuah dan menuruti kemauan mereka,
maka kau akan sanggup memikul singgasana kekuasaan,
serta kembali mengikuti jejak langkah kami
dalam merekrut orang-orang yang masih menghamba
pada materialisme dan kapitalisme,
seberapa panjang pun jabatan dan titel mereka
sebagai pakar intelektualisme asing.
Jangan ragu-ragu, lompatlah seperti kodok, Anakku,
ingatlah petuah leluhur dan pendahulumu,
kau akan sanggup berkuasa selama bangsa ini
hanya mengandalkan rasionalitas,
diselubungi keangkuhan intelektual dan spiritual,
serta dibutakan dan dininabobokan
oleh program-program ekonomi-politik
dan kebudayaan yang cenderung Baratsentris,
serta lebih mengutamakan kenikmatan duniawi,
ketimbang kepentingan akhirat yang abadi dan sejati.

Advertisement

 
Puisi Hafis Azhari, Peneliti historical memory, pengarang novel Pikiran Orang Indonesia dan Perasaan Orang Banten.

Advertisement

Artikel Terkait

Yang Tidak Masuk Tulisan, Puisi Karya M Taofik

Yang Tidak Masuk Tulisan, Puisi Karya M Taofik

Yang Tidak Masuk Tulisan Ada peluh yang tidak pernah sampai ke halaman. Ia mengering lebih dulu di punggung kursi dan ujung lengan baju. Malam menyimpan beberapa kalimat gagal. Sebagian dibuang

Bianca, Puisi Karya Achmad Raidi

Bianca, Puisi Karya Achmad Raidi

Sore tak memberimu lengang apalagi tenang gugur-gugur dedaunan  dari ranting rambutmu yang tampak senja

Teruntuk Tuanku Semata, Puisi Karya Novia Ulfa Isnaini

Teruntuk Tuanku Semata, Puisi Karya Novia Ulfa Isnaini

Teruntuk Tuanku Semata Tuan, fenomena eksploitasi berbasis kesenangan dan eksistensi sungguh telah menggerogoti semangatku... Yang tersisa hanya amuk abu yang tak bisa kupercikkan menjadi api lagi....

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer