LUMAJANG - Matahari belum terlalu tinggi saat suara hentakan kaki memenuhi aula latihan Yusuf Taekwondo Academy (YTA) Lumajang. Anak-anak berseragam dobok putih tampak sibuk berlari mengelilingi arena.
Di sela napas yang tersengal, ada satu hal yang tak pernah dilewatkan. Pemanasan.
Bukan sekadar rutinitas, pemanasan dalam dunia taekwondo ibarat kunci sebelum membuka pintu pertandingan. Tanpa itu, risiko cedera bisa membayangi kapan saja.
Pelatih YTA, Garfianka An-Nur Rizky, Lumajang menekankan bahwa pemanasan merupakan tahap krusial sebelum latihan intens maupun pertandingan.
“Pemanasan harus serius. Ada tahapannya, dari umum sampai khusus. Semua bertujuan mempersiapkan tubuh agar siap menghadapi tekanan fisik,” jelasnya.
Dalam sesi pemanasan umum, para peserta memulai dengan peregangan ringan. Mulai dari tangan, kaki, kepala, hingga berlari cepat mengitari area latihan hingga belasan kali.
Aktivitas ini bertujuan untuk mengaktifkan otot dan sirkulasi darah.
Setelah itu, masuk ke tahap pemanasan khusus yang lebih teknis. Seperti tendangan, pukulan, tangkisan, hingga latihan kuda-kuda.
Teknik ini tak hanya melatih refleks dan daya tahan, tetapi juga memperkuat otot inti dan kaki komponen vital dalam olahraga bela diri ini.
“Pemanasan ideal dilakukan selama 15 sampai 20 menit. Tujuannya agar otot lentur dan siap menerima beban latihan yang berat,” tambah Garfianka.
Ia mengingatkan bahwa sebagian besar cedera dalam taekwondo justru terjadi karena kelalaian saat pemanasan.
Rata-rata menyerang area kaki dan pergelangan. Bentuknya bisa memar hingga keseleo.
“Kuncinya ada di pemanasan. Banyak cedera terjadi karena salah gerak yang bisa dicegah kalau otot sudah siap sejak awal,” pungkasnya. (dea/dwi)
Editor : Dwi Siswanto