Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Petani Tembakau Jember Berharap Tak Ada Hujan saat Panen

Alvioniza • Sabtu, 27 Juli 2024 | 15:30 WIB
MULAI PANEN: Petani yang ada di Dusun Gemuling, Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, mulai memanen tembakau jenis Besuki Na-Oogst yang tumbuh dengan baik. JUMAI/RADAR JEMBER
MULAI PANEN: Petani yang ada di Dusun Gemuling, Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, mulai memanen tembakau jenis Besuki Na-Oogst yang tumbuh dengan baik. JUMAI/RADAR JEMBER

HALOJEMBER.COM - Setahun lalu petani tembakau Na-Oogst yang ada di Kecamatan Ambulu, Wuluhan, dan Balung banyak yang merugi.

Hal itu setelah tanaman tembakau mereka diguyur hujan selama dua hari berturut-turut.

Tanaman tembakau tergenang air hujan. Akibatnya tanaman tembakau jenis Besuki Na-Oogst maupun tembakau jenis kasturi banyak yang mati pada bulan Juli 2023 lalu.

Saat itu, selama dua hari terendam air hujan, tanaman tembakau menjadi busuk dan pohonnya mengering.

Bukan hanya kegagalan panen tanaman jenis tembakau yang dialami petani dari tiga kecamatan itu. Namun, tanaman kubis dan sebagian cabai juga mati.

Kini petani tembakau bisa semringah, karena tanaman tembakau tahun ini kembali baik.

Petani berharap tahun ini tidak ada hujan lagi. Sebagian petani pun sudah mulai memanen tembakau jenis Na-Oogst.

“Alhamdulillah, tahun tanam tahun ini, tanaman tembakau Na-Oogst kembali membaik. Tetapi dengan tanaman tembakau tahun ini, banyak petani berharap tidak hujan lagi. Apalagi sebagian petani sudah mulai memanen. Tetapi, ada juga yang masih dalam perawatan dan masih membutuhkan modal lagi,” katanya.

Sebagian petani hanya memanen daun tembakau bagian bawah yang sudah menguning.

“Dengan tanaman yang baik tahun ini juga diimbangi dengan harga yang mulai membaik,” katanya.

Tembakau kusiran saja kini harganya sudah berkisar Rp 3 juta per kuintal.

“Ya, tergantung warna dan bagusnya daun tembakau saat dipanen. Mudah-mudahan mutu yang bagus juga diimbangi dengan harga yang baik pula.

Mudah-mudahan tidak ada hujan lagi, sehingga petani bisa bernapas lega. Tidak seperti tahun lalu. Karena ratusan warga di Kecamatan Wuluhan saja, khususnya petani tembakau, menjadi kolaps,” kata Agus.

Hal serupa juga disampaikan Tumari, 63, warga Dusun Rekesan, Desa Lojejer, Kecamatan Wuluhan. Tanaman tembakau jenis kasturi miliknya juga bagus.

Daun tembakau bagian bawah saja sudah dihargai Rp 60 ribu per kilogram.

“Petani untuk tahun ini kembali bergairah, karena setahun lalu petani merugi akibat tanaman tembakaunya mati dan membusuk setela guyuran hujan selama dua hari berturut-turut,” pungkasnya. (jum/c2/nur)

Editor : Halo Jember
#jember #tembakau