HALO JEMBER - Santet bukan sekadar isu supranatural di masyarakat Indonesia, tetapi juga mencerminkan ketakutan kolektif yang telah tertanam secara turun-temurun.
Dalam komunitas tradisional, rasa takut terhadap santet bisa memengaruhi kehidupan sosial, perilaku, hingga pengambilan keputusan sehari-hari.
Dari sisi psikologi, ketakutan terhadap santet bisa dijelaskan melalui konsep kepercayaan kolektif.
Masyarakat yang sejak kecil sudah dikenalkan pada cerita santet, akan cenderung membentuk keyakinan bahwa kekuatan gaib benar-benar ada dan bisa membahayakan.
Ketika terjadi peristiwa seperti sakit misterius, kematian mendadak, atau konflik antarwarga, masyarakat kerap mengaitkannya dengan santet sebagai penjelasan yang dianggap logis dalam konteks budaya mereka.
Selain itu, rasa takut ini juga memperkuat kontrol sosial.
Dalam komunitas yang menjunjung tinggi harmoni dan adat, tuduhan santet seringkali menjadi cara untuk menekan perilaku yang menyimpang dari norma.
Orang yang dianggap terlalu menonjol, menyendiri, atau berbeda, bisa saja menjadi sasaran kecurigaan.
Hal ini menciptakan ketegangan sosial yang membuat warga cenderung berhati-hati agar tidak “mengundang” tuduhan.
Dari sudut pandang psikologi sosial, hal ini juga berkaitan dimana seseorang yang dianggap membawa masalah dalam komunitas, dijadikan kambing hitam dan dituduh sebagai pelaku santet.
Sayangnya, ini bisa berujung pada persekusi dan konflik berkepanjangan.
Meski zaman terus berkembang, rasa takut terhadap santet masih terasa kuat di berbagai daerah.
Pendekatan edukasi dan pemahaman psikologis menjadi penting agar masyarakat bisa membedakan antara kepercayaan, fakta medis, dan konflik sosial yang sebenarnya bisa diselesaikan tanpa melibatkan unsur mistis. Baca Juga: Berhenti Makan Mie Instan Jadi Rahasia Kulit Glowing , Sekedar Mitos atau Fakta ?
Penulis: MG25 Ailatul Miza Zulfa
Editor : Dwi Siswanto