Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Cara Dakwah Gus Miek yang di Luar ‘Nurul’

Dwi Siswanto • Kamis, 6 Juni 2024 | 07:32 WIB

 

sumber : @nahdlatululama
sumber : @nahdlatululama

HALO JEMBER – Gus Miek atau Kyai Hamim Tohari Djazuli berdakwa dengan cara yang tidak biasa. Bahkan, di luar nurul alias nalar. Berikut cerita dakwah tokoh agama dari Kediri, Jawa Timur (Jatim) ini. 

Pada semasa hidupnya, lokasi dakwah beliau cukup nyeleneh. Bahkan, pada waktu itu menjadi kontroversial. Sebab, Gus Miek memilih berdakwa ke tempat hiburan malam, diskotik ataupun kelab malam. Apalagi, tempat hiburan nakal adalah lokasi yang banyak dihuni perempuan dan pria ‘nakal’

Cara berpakaian Gus Miek juga memilih lebih santai. Celana jeans, kaos oblong, hingga memakai kacamata hitam. Hal itu dilakukan, agar lebih mudah diterima dan berbaur dengan masyarakat. Termasuk lebih mudah memberikan nasehat kepada tukang becak hingga pedagang kopi keliling.

Ajaran beliau yang terkenal adalah suluk jalan terabas atau  pemikiran jalan pintas. Baca Juga: Suluk Jalan Terabas, Ajaran Gus Miek. Bagaimana Hakekatnya ?

Konon ceritanya dalam memakai kacamata hitam dalam berdakwa ke dunia malam, karena untuk menutupi air mata Gus Miek. Sebab, merasa sedih banyak orang yang jauh dari ajaran agama.

Cara berdakwah yang nyeleneh tapi memberikan arti tersebutlah membuat Gus Miek dihormati.

          Dilansir Radar Kediri, Jawa Pos Grup. Cucu Gus Miek, Ferry Husnul Maab, membenarkan metode dakwah kakeknya yang berbeda. Hal tersebut menimbulkan perdebatan di kalangan kiai saat itu. “Memang beliau (Gus Miek) sering masuk ke ‘lembah hitam’,” kata Ferry.

Gus Miek punya alasan memilih diskotik sebagai tempat dakwahnya. Dia memastikan bahwa orang-orang yang ada di tempat hiburan malam itu juga menginginkan surga. Dia meragukan ada kiai yang mau ke diskotik untuk berdakwa. Karena itulah, dia ada di tempat yang tidak dijangkau kiai lainnya.

Gus Miek sudah mengerti dengan risiko yang akan diterimanya. Bahkan, sudah siap namanya tercemar dan hancur di mata umat. Metode dakwah yang dia pilih untuk berdakwa ke lembah hitam itu boleh tidak disukai manusia. Tetapi dia yakin tenar di mata Allah.

Dalam sebuah kisah, karena Gus Miek kerap berdakwah ke diskotek dan tempat perjudian, kemudian mendapat tentangan dari gurunya di Liboyo, KH Machrus Ali.

Terjadi cerita luar biasa ketika Gus Miek pergi ke diskotek, di mana ia bertemu dengan orang yang sedang menenggak minuman keras. Gus Miek kemudian menghampirinya lalu memasukkan minuman itu ke mulutnya.

Namun, ia mengatakan tidak menelan minuman keras tersebut, tetapi membuangnya ke laut. Orang tersebut tidak percaya lalu melihat mulut Gus Miek. Seketika kaget melihat adanya gelombang laut yang besar.

Saat itu juga, orang yang mabuk di diskotek tersebut bertobat dan meninggalkan kebiasaan buruknya.

 Baca Juga: Cerita Penemuan Sumur Habib Sholeh Tanggul

Wanita ‘Malam’

Isu miring yang melekat pada Gus Miek, karena adalah kebiasaanya dengan perempuan nakal. Dia kerap berbicara empat mata dengan perempuan di dalam kamar. Cara tersebut kerap berseberangan dengan kiai lainnya. Bahkan, perjuangannya kerap mendapat penolakan di kalangan kiai lain.

“Gus Miek, kalau berdakwah memang menyasar perorangan,” ujar Ferry Husnul Maab, Cucu Gus Miek. Bahkan, dalam buku “Perjalanan dan Ajaran Gus Miek” karangan Muhamad Nurul Ibad menyebutkan, ketika berhadapan dengan perempuan nakal di kamar, Gus Miek tidak lagi melihat rupanya. Yang dilihat Gus Miek hanyalah darah dan tulang.

Cerita itu dibenarkan oleh Ferry. Dia menambahkan, kakeknya bisa melihat masa depan perempuan yang diajak bicara empat mata. Dengan begitu, Gus Miek bisa memberi nasihat kepada perempuan yang diajaknya bicara.

Ferry menambahkan, Gus Miek sejak kecil dikenal memiliki kemampuan di luar nalar. Dia kerap berada di beberapa tempat dalam waktu bersamaan. Bahkan Gus Miek pun jarang berada di rumahnya, Desa Ngadi, Kecamatan Mojo. “Dalam satu tahun (Gus Miek, Red) hanya dua kali di rumah,” papar Ferry. Selama di luar, Gus Miek berdakwah ke banyak tempat di luar Kediri.

Dalam tulisan Ahmad Faisal Zam Ani, Mahasiswa UIN Sunan Ampel di laman Radar Madura, menceritakan perjalanan dakwah Gus Miek.

Suatu ketika KH Khamid Pasuruan ditanya tentang KH Ahmad Shidiq tentang kepribadian Gus miek, "kalau aku dijadikan seperti Gus Miek mungkin aku tidak akan kuat" karena gus miek berkeliaran di diskotik, tempat perjudian, bersama preman-preman. Dengan itu semua gus miek mampu berbaur dengannya untuk menyampaikan ajaran islam.

Putra dari KH Ahmad Shidiq yang bernama Gus Farid bertanya kepada Gus miek, "Gus gimana perasaan samean bila bersama dengan wanita-wanita yang begitu cantik, bersolek, menawan dengan pakaian yang sangat minim?,”

Kalau kamu gimana?", tanya gus miek.

Gus farid menjawab, " ya...... cantik, mempesona.”

“Itu kalau pandanganmu,” jawab Gus miek.

“lha beda to gus ?” timpal Gus Farid.

Gus miek, " ya beda".

Akhirnya Gus miek mengusap muka gus farid dan seketika itu Gus Farid kaget dengan apa yang dilihatnya.

Gimana sekarang, apakah masih ada perasaan nafsu atau gimana ? tanya gus miek.

Gus farid "lha kalau kayak gini tidak ada perasaan sama sekali gus, malah jijik, dan ada rasa pingin muntah.

Ternyata dipandangan Gus Farid wanita penghibur malam itu berubah menjadi tulang yang dibalut daging dengan berlumuran darah.

Oleh karena itu sebenarnya yang dimaksud dengan wanita itu, karena wanita terkadang mampu memberikan pengaruh terhadap seseorang untuk melakukan maksiat cukup dengan memandangnya. Sehingga dengan Itulah gus miek seorang wali kharismatik memberikan jawaban yang pada akhirnya dapat merubah pandangan nyata Gus Farid ketika melihat wanita.

Sungguh luar biasa Gus Miek seorang ulama kharismatik dengan berbagai dakwah yang berbeda dengan kyai-kyai lainnya.

Bahkan tidak hanya cerita-cerita tersebut akan tetapi masih banyak lagi kisah menarik lainnya yang dapat membuat kita tercengang dengan cerita yang berupa kejadian-kejadian yang dialami ketika bersama Gus Miek.

Editor : Dwi Siswanto
#jawa timur (jatim) #gus miek #kediri