HALO JEMBER – Mendengar kata keris, pikiran kita mengarah ke hal-hal yang berbau klenik dan mistik. Wajar saja keris tidak hanya sekedar sebagai senjata tajam. Tapi juga diagungkan sebagai pusaka.
Selain dipakai untuk pusaka dan sejata. Keris juga dinilai maha karya seni yang luar biasa. Maka, tidak salah keris yang diburu tidak sekedar untuk spiritual saja, tapi juga terletak pada nilai seni yang terkandung dalam keris tersebut.
Dilihat dari bentuknya dan fungsinya. Keris termasuk senjata tikam. Yaitu masuk dalam kelompok belati.
Keris memiliki bentuk asimeteris dan pada bagian pangkalnya melebar. Bilahnya sering terlihat berkelok-kelok. Pada masa lalu, keris digunakan sebagai senjata tajam dalam peperangan sekaligus sebagai benda sesaji.
Menjadi Senjata Familiar pada Masa Majapahit
Bila, pada film-film kolosal Jepang, baik anime atau live action, maka banyak ditemukan pria dewasa selalu membawa samurai atau katana ke mana-mana. Termasuk pergi ke pasar atau hanya sekedar ke kedai minuman.
Hal serupa juga terjadi di nusantara ini. Namun, bukan katana yang dipakai. Melainkan keris.
Ya keris adalah senjata umum yang digunakan masyarakat dari berbagai kalangan sosial. Pada masa Kerajaan Majapahit, setiap laki-laki rentan usia 12-80 selalu keluar dengan membawa keris.
Keris yang dibawa tersebut diselipkan di sabuk. Keris nusantara yang menyebar di berbagai penjuru daerah, tidak lain karena pengaruh Majapahit kala itu. Wajar saja, ada keris Jawa, Madura, Nusa Tenggara, Sumatera, pesisir Kalimantan, sebagian Sulawesi, Semenanjung Malaya, Thailand Selatan, dan Filipina Selatan.
Era kerajaan telah usai dan seiring berkembangnya jaman, keris tidak lagi menjadi senjata. Keris lebih kepada simbolik sebagai warisan keluarga, hiasan, barang antik, hingga sebagai pusaka yang memiliki kekuatan mistik.
Keris memiliki tempat khusus di hati masyarakat karena keris memiliki arti, pesan moral, serta simbol yang mendalam. Nilai-nilai yang terkandung dalam keris ini disebut pasemon. Keris Jawa terdiri dari tiga bagian, yaitu warangka atau sarung keris, hulu atau pegangan keris, dan bilah atau bagian pokok keris.
Asal Usul Keris
Asal usul keris belum jelas. Karena, tidak ada sumber diskriptif tentang keris sebelum abad ke 15. Walaupun, penyebutan keris telah tercantum dalam prasasti ke 9 M. Kajian ilmiah tentang perkembangan keris diperoleh melalui analisis relief candi atau patung. Termasuk dengan fungsi keris yang dapat dilacak melalui prasasti dan laporan-laporan penjelajah asing ke Nusantara.
Prototipe keris diduga berasal dari senjata tikam yang terdapat pada pahatan arca megalitik dan relief candi dari masa megalitikum 10-11 M. Pada waktu itu senjata tikam mirip dengan senjata tikam kebudayaan Dongson maupun India. Susunan senjata tikam yang diduga prototipe keris tersebut bilahnya belum memiliki kecondongan dan terkesan simetris. Selain itu, senjata tikam menunjukkan hulu atau pegangan yang merupakan satu kesatuan dengan bilah.
Yang paling menyerupai keris adalah peninggalan megalitikum dari lembah Basemah Lahat Sumatera Selatan dari 10-5 SM. Kecodongan bilah bukan terhadap derajat kemiringan)terhadap hulunya. Selain itu, satu panel relief Candi Borobudur (abad ke 9) memperlihatkan seseorang memegang benda menyerupai keris tetapi belum memiliki derajat kecondongan dan hulunya masih menyatu dengan bilah.
Bentuk Keris Merujuk deskripsi UNESCO
Nilai estetika sebilah keris mencakup dhapur, pamor, dan tangguh. Dhapur merupakan istilah bahasa Jawa yang dipakai untuk menyebut bentuk dan model keris. Ada komposisi racikan atau ornamen yang memberikan ciri pembeda antara satu keris dengan keris yang lainnya. Perbedaan itu akan memunculkan nama-nama dhopur yang beragam.
Tetapi jika, keris memiliki ornamental atau racikan yang berbeda, maka akan berbeda pula nama dhopurnya. Dalam catatan UNESCO, ada 40 varian dhopur.
Pamor yaitu pola dekorasi pada bilah yang muncul dari kombinasi logam yang berbeda sebagai konsekuensi dari teknik tempa-lipat. Menurut UNESCO, tercatat 120 varian.
Sementara aspek tangguh, istilah tangguh ditambah awalan pe- dan -an menjadi penangguhan. Istilah ini bermakna proses interpretasi perihal asal usul dan estimasi usia sebuah keris.
Pengetahuan Tentang Keris Jawa Dalam pegetahuan tentang keris di Jawa (padhuwungan), keris dari masa pra Kediri-Singosari dikenal sebagai "keris Buda" atau "keris sombro". Keris ini tidak berpamor dan sederhana. Keris Buda dianggap sebagai pengawal susunan keris modern. Contoh, susunan keris milik keluarga Knaud dari Batavia yang diperoleh Charles Knaud, seorang Belanda yang memiliki minat pada mistisisme Jawa.
Karis tersebut miliki relief tokoh epik Ramayana pada permukaan bilahnya dan mencantumkan angka tahun Saka 1264 (1342M), satu jaman dengan candi Penataran.
Kajian ikonografi konstruksi dan gaya ukiran pada masa Kediri-Singosari (abad ke 13 hingga ke -14) menunjukkan pembumian murni India menuju gaya Jawa, tak terkecuali dengan susunan kerisnya. Keris Modern Keris modern diyakini ketika para pemerhati keris memperoleh susunannya pada masa Majapahit (abad ke 14).
Sesuai relief keris modern paling awal terdapat pada candi Bahal Sumatera Utara dan penemuan karis Buddha dari Jawa Timur 10 M. Sehingga, dapat diperkirakan bahwa kurang lebih 10 M mulai tercipta keris dalam susunannya yang modern asimetris
Pada masa kini, keris memiliki fungsi beragam yang ditunjukkan dengan susunan keris. Keris memiliki beberapa fungsi: Keris masih digunakan sebagai bagian sesaji seperti yang termuat dalam prasasti-prasasti milenium. Keris digunakan sebagai ritual upacara mistik. Keris semacam ini dikenal sebagai keris sesajian atau "keris Majapahit".
Selain itu pada masa kini, kalangan perkerisan Jawa selalu melihat keris sebagai tosan aji atau "benda keras (logam) yang luhur", bukan sebagai senjata. Keris adalah dhuwung, bersama-sama dengan tombak, keduanya dianggap sebagai benda "pegangan" (ageman)
Editor : Dwi Siswanto