Salah satu hal yang tidak bisa terlewat saat naik gunung adalah mengintip bunga edelweiss yang sering disebut sebagai bunga abadi.
Salah satu gunung yang memiliki edelweiss adalah Gunung Raung, dikutip dari detik.com.
Bunga edelweis merupakan bunga yang lazim ditemukan di beberapa gunung di Indonesia ketika melakukan pendakian.
Nama latin dari bunga edelweis adalah Anaphalis javanica dan banyak tumbuh di pegunungan di Indonesia.
Bunga ini terkenal memiliki penampilan yang begitu cantik, sehingga banyak pendaki yang ingin memetik dan membawa pulang bunga satu ini.
Akan tetapi, Grameds perlu tahu bahwa memetik bunga ini merupakan aktivitas yang dilarang ketika melakukan pendakian.
Bagi pendaki yang melanggar peraturan ini, maka akan ada sanksi yang perlu ditanggung, dikutip dari Gramedia Blog.
Contohnya, pihak Basecamp Gunung Prau dari Igirmranak mewajibkan pendaki mengganti 100 kali lipat apabila merusak tanaman selama pendakian, termasuk memetik bunga edelweis.
Lalu kenapa bunga ini tidak boleh dipetik? Bahkan ada sanksi ketika ada seseorang yang melanggarnya? Lalu, mitos dan fakta seputar bunga edelweiss yang mendapat julukan sebagai bunga abadi? Semua pertanyaan itu bisa kamu temukan pada artikel ini. Jadi, simak penjelasan bunga edelweis berikut ini ya!
Sebelum mengetahui lebih lanjut tentang mitos dan fakta seputar bunga ini, ada baiknya apabila Grameds mengetahui pengetahuan umum tentang bunga ini lebih dulu.
Anaphalis javanica atau Edelweis Jawa yang juga disebut dengan Bunga Senduro, merupakan tumbuhan endemik zona montana atau alpina yang ada di berbagai pegunungan tinggi di Nusantara.
Grameds mungkin juga tidak asing dengan julukan dari edelweis yaitu “bunga abadi”. Julukan dari bunga ini tentu saja tidak asal diberikan, disebut sebagai “bunga abadi” karena bunga edelweiss mekar dalam jangka waktu yang cukup lama.
Selain itu, bunga ini juga tidak mudah layu atau mati. Bunga edelweis memiliki hormon etilen yang berfungsi untuk mencegah kerontokan pada kelopak bunganya.
Tidak seperti bunga yang lainnya, bunga edelweis mekar dan dapat bertahan hingga 10 tahun lamanya. Karena jangka waktu mekar inilah, bunga edelweis mendapatkan julukan sebagai bunga abadi.
Kebanyakan bunga ini tumbuh di daerah pegunungan yang dingin, sebab bunga yang satu ini memiliki bulu tebal. Menurut buku Ensiklopedia Adaptasi di Alam Raya yang ditulis oleh Ajeng Wind, bulu tebal dari bunga ini memiliki manfaat untuk menghalau udara dingin di pegunungan.
Bagian akar dari bunga ini juga memiliki keunikan tersendiri, yaitu bersimbiosis mutualisme dengan jamur mikoriza.
Simbiosis akar dan jamur ini bertujuan untuk mempertahankan hidup di tanah yang tandus seperti pada lereng gunung.
Karena keindahan dan kelangkaannya, bunga edelweis kini menjadi salah satu bunga langka yang hanya bisa ditemukan di pegunungan tertentu seperti Gunung Raung.
Maka tak heran jika aturan untuk tidak memetiknya diberlakukan secara ketat oleh pengelola jalur pendakian.
Pewarta: Febri Irawan
Editor : Dwi Siswanto