Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

 Realfood Bukan Tren, tapi Kebutuhan Tubuh

Dwi Siswanto • Senin, 27 Oktober 2025 | 17:31 WIB
“Anak belajar dari melihat. Kalau ayah-ibunya makan makanan sehat, mereka juga akan penasaran dan ikut mencoba,” AMANDA CAHYA YANUARTIKA, Direktur RSCM Bondowoso (RSCM BONDOWOSO)
“Anak belajar dari melihat. Kalau ayah-ibunya makan makanan sehat, mereka juga akan penasaran dan ikut mencoba,” AMANDA CAHYA YANUARTIKA, Direktur RSCM Bondowoso (RSCM BONDOWOSO)

Gaya pengasuhan anak di era modern semakin mengarah pada satu pendekatan penting: memberikan makanan real food. Yaitu makanan utuh dan minim pengolahan untuk mendukung pertumbuhan serta kesehatan mental dan fisik anak

FAQIH HUMAINI, Bondowoso

Di sebuah perumahan kecil di Bondowoso. Suara panci beradu dengan spatula terdengar setiap pagi. Di dapur rumahnya yang sempit, Nafisa 35 sibuk memotong dada ayam, wortel, dan menyiapkan nasi.

“Dulu nggak mungkin saya masak beginian,” katanya sambil tersenyum lelah. “Anak saya maunya nugget, sosis, makanan cepat saji seperti mie instan. Sekarang pelan-pelan saya ubah semua.”

Perubahan itu bermula saat buah hatinya sakit. Dokter menyarankan agar ia memperhatikan asupan makanan.

“Katanya terlalu banyak makanan olahan,” kenangnya. Dari situlah ia mulai belajar tentang konsep real food. Makanan utuh tanpa pengawet dan pemanis buatan.

Menurut Direktur Rumah Sakit Cahya Medika (RSCM) Bondowoso, dr. Amanda Cahya Yanuartika, anak yang nikmat dengan makanan kemasan, maka orang tua juga butuh perjuangan lebih.

Kunci agar anak mau makanan real food bukan memaksa. Tapi memberi contoh dan menciptakan pengalaman makan yang menyenangkan di rumah.

Ia mengatakan, anak-anak cenderung meniru apa yang dilakukan orang tuanya. Maka, jika orang tua terbiasa makan buah, sayur, dan makanan real fodd lainnya, maka anak pun akan mengikuti.

“Anak belajar dari melihat. Kalau ayah-ibunya makan makanan sehat, mereka juga akan penasaran dan ikut mencoba,” ujarnya

Amanda menjelaskan, makanan real food atau makanan minim olahan sejatinya adalah sumber gizi terbaik bagi tumbuh kembang anak.

Makanan ini berasal langsung dari alam, seperti sayur, buah, ikan, atau daging segar yang hanya diolah dengan cara sederhana seperti direbus atau dikukus.

Namun ia mengakui, mengubah kebiasaan makan anak sekolah bukan hal mudah. Lingkungan sekolah yang penuh jajanan cepat saji membuat anak mudah tergoda.

“Kita tidak bisa langsung melarang. Kalau anak terbiasa makan sosis atau mi instan, ya jangan disetop total. Gantilah perlahan, misalnya bikin sendiri versi sehatnya di rumah,” sarannya.

 Baca Juga: Presiden Prabowo Umumkan Bahasa Portugis Wajib Diajarkan dan Dipelajari Siswa Indonesia

Dia  juga menyebut pentingnya visual food atau tampilan makanan yang menarik. Anak-anak, katanya, sering menolak makanan hijau karena dianggap tidak menarik.

“Coba ubah bentuknya lucu-lucu, seperti bola sayur, sate buah, atau nasi warna-warni dari bahan alami. Anak-anak akan tertarik mencoba,” jelasnya.

Ia menambahkan, melibatkan anak dalam proses memasak juga bisa menumbuhkan rasa ingin tahu.

“Ajak mereka mencuci sayur, memotong buah, atau menyusun bekal sekolah. Saat anak merasa dilibatkan, mereka akan lebih menghargai makanan yang disiapkan,” tuturnya.

Terpenting, kata dia, biasakan lidah anak sejak kecil mengenal rasa alami. Jangan terlalu gurih, jangan terlalu manis.

“Kalau sejak kecil lidahnya tidak kenal micin, besar nanti mereka akan memilih makanan yang lebih sehat,” pungkasnya. (faq/dwi)

Editor : Dwi Siswanto
#Gaya Pengasuhan #panci #realfood #bondowoso