Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Benarkah Tempe Menyelamatkan Nyawa Saat Perang? Ini Fakta Sejarahnya

Dwi Siswanto • Senin, 24 November 2025 | 00:55 WIB
FOTO: diambil dari website Pixabay kiriman mochawalk
FOTO: diambil dari website Pixabay kiriman mochawalk

Halo Jember - Tempe sering dianggap sebagai makanan sederhana yang akrab di meja makan masyarakat Indonesia, tetapi di balik kenikmatannya, pangan berbahan kedelai ini menyimpan sejarah panjang yang berakar kuat di tanah Jawa.

Jejak awalnya diperkirakan muncul pada abad ke-17, terutama di wilayah Tembayat, Klaten, Jawa Tengah, di mana masyarakat setempat telah terbiasa mengolah kedelai dengan teknik fermentasi alami.

Nama “tempe” sendiri diperkirakan berasal dari istilah kuno “tumpi,” sebutan untuk makanan berwarna terang yang menyerupai tekstur olahan tepung sagu, sehingga istilah itu kemudian melekat pada produk fermentasi kedelai ini.

Keberadaan tempe juga dapat ditemukan dalam manuskrip kuno, salah satunya Serat Centhini yang disusun pada awal abad ke-19.

Di dalam kisah perjalanan tokoh Cebolang, tempe disebut sebagai bagian dari hidangan yang disajikan di Tembayat.

Catatan lain dalam naskah tersebut menggambarkan penggunaan tempe dalam berbagai masakan, seperti “brambang jahe santen tempe” dan “kadhele tempe srundengan,” menunjukkan bahwa tempe sudah lama menjadi bagian dari kehidupan kuliner masyarakat Jawa, termasuk dalam bentuk tempe semangit yang kini dikenal sebagai salah satu olahan tradisional.

Pada masa awal kemunculannya, tempe dibuat dari kedelai hitam yaitu jenis kedelai yang banyak dibudidayakan di wilayah Mataram.

Fakta ini menandakan bahwa tradisi membuat tempe telah berkembang sebelum masuknya kedelai kuning dari China Utara.

Teknik pengolahan tempe diwariskan antar generasi, menggunakan kapang alami seperti Rhizopus oligosporus dan kerabatnya, yang kemudian menyatukan butiran kedelai dalam waktu fermentasi sekitar satu hingga tiga hari hingga membentuk tekstur padat berwarna putih seperti yang sering kita konsumsi sekarang.

Perjalanan tempe menembus dunia bermula pada masa kolonial, ketika orang Belanda membawa berbagai produk pangan Nusantara ke Eropa.

Pada 1895, seorang sarjana Belanda mulai mencatat nilai gizi dan cara pembuatan tempe, termasuk mengidentifikasi jenis kapang yang bekerja dalam proses fermentasinya.

Dari sanalah penelitian tentang tempe berkembang, dan setelah Perang Dunia II, pangan ini mulai menarik perhatian lebih luas di Eropa karena manfaat kesehatannya.

Di Indonesia sendiri, tempe pernah memainkan peran penting pada masa pendudukan Jepang.

Kandungan proteinnya menjadi penyelamat bagi banyak tawanan perang yang mengalami kekurangan gizi, bahkan diyakini membantu mencegah penyakit seperti busung lapar dan disentri.

Seiring waktu, tempe tidak hanya menjadi makanan pokok, tetapi juga simbol ketangguhan rakyat kecil.

Istilah “mental tempe” yang dahulu bernada merendahkan kini justru dianggap sebagai gambaran ketahanan dan kerendahan hati yang melekat pada karakter masyarakat Indonesia.

Dari dapur-dapur sederhana di Jawa hingga meja makan dunia, perjalanan tempe menunjukkan bagaimana sebuah makanan tradisional bisa menjadi warisan budaya yang bertahan ratusan tahun dan tetap relevan hingga saat ini.

Penulis: Tazyinatul Ilmiah

Editor : Dwi Siswanto
#sejarah #Makanan Sederhana #tempe #Tanah Jawa #perang