KARANGREJO – Kluntung sapi, kain tenun, hingga keramik masa lampau menjadi koleksi baru Museum Telu, Jember. Salah satu koleksi yang menarik perhatian adalah kluntung sapi peninggalan Letkol Sroedji, yang dahulu digunakan saat perang gerilya di wilayah Tempurejo.
Penambahan koleksi tersebut diumumkan bertepatan dengan peringatan hari jadi pertama Museum Telu.
Total terdapat enam koleksi baru, terdiri atas tenun Lampung, tenun Toraja, tiga buah keramik, dan satu kluntung sapi.
“Enam koleksi baru ini berasal dari para donatur,” ujar Priwahyu Hartanti, Pembina Yayasan Lima Cahaya Berkah Nusantara yang menaungi Museum Telu.
Sementara itu, Darmono Endri Susilodik, salah satu donatur, menjelaskan bahwa kluntung sapi tersebut merupakan peninggalan leluhurnya yang juga seorang gerilyawan di wilayah Semboro.
Kluntung itu digunakan pada sapi milik Letkol Sroedji, yang difungsikan layaknya cikar untuk mengangkut prajurit dalam perang gerilya.
“Sapi itu ikut gugur dalam peristiwa perang. Kluntungnya kemudian diselamatkan oleh kusir dan diserahkan kepada anak buah Letkol Sroedji,” tuturnya.
Kurator Museum Telu Ade Shiddiq menyebut Museum Telu sebagai museum termuda di Jember, namun perkembangannya terbilang cepat.
Museum ini bersama beberapa museum lain di Jember, seperti Museum Kaliber dan Museum Tembakau, telah masuk dalam daftar registrasi museum nasional, baik tingkat regional maupun nasional.
“Tinggal bagaimana kita mengembangkan agar museum ini semakin baik dan bermanfaat,” katanya.
Kepala Museum Telu Moch. Hasan mengatakan, setiap tahun, museum berkomitmen menambah koleksi dan mengelaborasi simpul-simpul kebudayaan sebagai bagian dari upaya pelestarian sejarah dan budaya untuk generasi mendatang. Menurutnya, bangsa Indonesia telah memiliki peradaban luhur sejak lama, namun kerap dianggap sebagai hal yang biasa.
“Padahal negara-negara Barat mengakui peradaban bangsa kita. Tugas museum adalah mengingatkan dan mengedukasi,” katanya.
Dukungan juga datang dari Dinas Pendidikan Jember. Perwakilan Dispendik Jember Oky Anis menyatakan keberadaan Museum Telu sejalan dengan program pendidikan yang menekankan pengenalan, penghargaan, dan kecintaan terhadap budaya.
“Kami berharap Museum Telu bisa bersinergi dengan satuan pendidikan formal dan nonformal, mulai PAUD, PKBM, hingga pendidikan vokasi,” tuturnya. (dwi)
Editor : Dwi Siswanto