HaloJember – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali berada di bawah tekanan berat.
Pada awal pekan ini, rupiah disebut sempat menyentuh level Rp17.001 per dolar AS, menjadikannya salah satu titik terlemah sepanjang sejarah.
Pelemahan tersebut memicu kekhawatiran di kalangan pelaku usaha.
Kondisi ini bahkan disebut melampaui level terburuk yang pernah terjadi saat krisis moneter 1998 maupun periode pandemi Covid-19.
Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, terutama konflik antara United States, Israel, dan Iran yang memicu gejolak pasar keuangan dunia.
Konflik Global Tekan Mata Uang Asia
Analis pasar menyebut konflik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor utama yang menekan rupiah.
Ketika ketegangan meningkat, investor global cenderung memindahkan dana ke aset yang dianggap lebih aman seperti dolar AS dan emas.
Akibatnya, banyak mata uang negara berkembang mengalami pelemahan, termasuk rupiah.
Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro menyebut eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran meningkatkan risiko perang regional yang lebih luas dan memicu sentimen risk-off di pasar global.
Ketegangan tersebut juga memicu kenaikan harga minyak dunia karena kekhawatiran gangguan pasokan energi dari Timur Tengah.
Kondisi itu memberi tekanan tambahan terhadap mata uang negara pengimpor minyak seperti Indonesia.
Pengusaha Mulai Khawatir
Pelemahan rupiah yang terlalu dalam membuat kalangan dunia usaha mulai waspada.
Nilai tukar yang melemah dapat meningkatkan biaya impor bahan baku, terutama bagi industri yang bergantung pada barang dari luar negeri.
Jika tekanan rupiah berlangsung lama, biaya produksi berpotensi meningkat dan bisa berdampak pada harga barang di dalam negeri.
Selain itu, pelemahan rupiah juga berpotensi memperlebar defisit fiskal jika pemerintah harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk pembayaran utang luar negeri yang menggunakan dolar AS.
BI Siapkan Intervensi Pasar
Menghadapi tekanan tersebut, Bank Indonesia diperkirakan akan terus melakukan intervensi di pasar keuangan guna menstabilkan nilai tukar rupiah.
Langkah stabilisasi biasanya dilakukan melalui berbagai instrumen, seperti intervensi di pasar valas, pasar obligasi, hingga kebijakan moneter yang bertujuan menjaga kepercayaan investor.
Sejumlah ekonom menilai penguatan fundamental ekonomi domestik juga menjadi kunci untuk meredam tekanan terhadap rupiah di tengah ketidakpastian global.
Risiko Ketidakpastian Masih Tinggi
Selama konflik di Timur Tengah belum mereda, pasar keuangan global diperkirakan masih akan bergerak volatil.
Pengamat pasar juga mengingatkan bahwa ketidakpastian geopolitik dapat terus memicu arus modal keluar dari negara berkembang.
Jika situasi global semakin memanas, rupiah berpotensi tetap berada di bawah tekanan dalam waktu dekat.(yul)
Editor : Yulio Faruq Akhmadi