HALOJEMBER.COM- Batu empedu merupakan endapan cairan pencernaan yang mengeras, yang terbentuk di kantong empedu.
Penderitanya harus melakukan deteksi sejak dini, karena gejala yang dirasakan bisa saja ringan.
Upaya penanganannya tidak harus selalu dengan tindakan operasi. Ada langkah nonoperasi yang bisa dilaksanakan dengan berbagai catatan, tentunya.
BACA JUGA: Apa itu Metabolic Syndrome? Kenali Gejala dan Cara Pencegahannya
Dokter spesialis bedah RSD dr Soebandi Jember, dr Rachman Efendi SpB MKed, menyampaikan, penanganan batu empedu dapat dilakukan secara operatif.
Tindakan operasi dapat dilaksanakan apabila terdapat beberapa gejala. Mulai dari muncul nyeri, ukuran batu lebih dari 5 milimeter, hingga muncul gejala infeksi. “Lebih cepat lebih baik,” katanya.
Dalam operasi batu empedu, ada dua metode yang bisa dipakai. Di antaranya pengambilan kantong empedu secara terbuka dengan sayatan.
BACA JUGA: Kerja Sewajarnya Karena Kelelahan Bisa Jadi Faktor Pendukung Tifus
Seiring berkembangnya teknologi, operasi juga dapat dilakukan dengan laparoskopi kolesistektomi.
Menggunakan bantuan kamera khusus, sehingga luka sayatan sangat minim. “Keuntungan sangat berbeda sekali.
Dengan laparoskopi bisa dilihat secara utuh anatomi dan organ sekitarnya,” katanya.
BACA JUGA: Cukup Olahraga Jalan Kaki, Bisa Terhindari dari Diabetes
Batu empedu juga dapat ditangani dengan medikamentosa. Penanganan ini hanya dipilih untuk batu dengan jenis kolesterol saja.
Batu jenis tersebut dapat diobati dengan observasi selama kurang lebih enam bulan, dengan obat khusus.
Obat tersebut dapat mengecilkan ukuran batu empedu hingga 50 persen.
“Tapi, kemungkinan keberhasilannya juga 50 persen,” tuturnya.
Lebih lanjut, dr Rachman juga menjelaskan, pasien yang sudah melakukan operasi batu empedu harus menjaga pola hidupnya.
Salah satunya menghindari makanan berlemak dan karbohidrat nonkompleks. (ham/c2/fid)
Editor : Halo Jember