HALOJEMBER - Tuberkulosis resisten obat (TB RO) menjadi penyakit TBC yang kebal terhadap obat TBC lini 1. Karena telah resisten dengan obat, maka pengobatannya cukup panjang. Namun, kini pengobatan TB RO bisa lebih cepat.
Diketahui, TBC terbagi menjadi dua jenis, yakni TB resisten obat (RO) dan TB sensitif obat (SO). Keduanya biasanya menyerang paru-paru.
Namun, tidak tertutup kemungkinan organ lainnya. Baik TB RO ataupun TB SO sama-sama membutuhkan pengobatan berbulan-bulan dan harus dilakukan konsisten.
Dokter spesialis paru RSD dr Soebandi Jember, dr Wahyu Agung Purnomo SpP FAPSR, menyampaikan, TB RO dapat diketahui setelah pemeriksaan darah pada pasien.
Kemudian, hasilnya diketahui bakteri yang ada sudah kebal obat. Sehingga tidak dapat menggunakan obat TB pada umumnya, serta membutuhkan jenis obat khusus.
Dia juga menyebut, di Indonesia ada tiga macam pengobatan untuk TBC RO. Awalnya pengobatan yang dilakukan selama 18 hingga 24 bulan.
Setelah itu, pengobatan 9 hingga 11 bulan atau disebut pengobatan jangka pendek. Kemudian, pengobatan terbaru hanya membutuhkan waktu 6 bulan saja.
“Pengobatan ini disebut dengan BPaLM, yang merupakan singkatan dari obat yang digunakan, bedaquilin, pretomanid, linezolid, dan moxifloxacin,” terangnya.
Pengobatan BPaLM dianggap dapat membuat penderita TBC RO lebih nyaman. Melihat metode pengobatan sebelumnya, pasien harus mengonsumsi obat serta menyuntikkan obat ke tubuh setiap hari.
“Sekarang tidak ada yang injeksi (suntik, Red). Semua obatnya diminum,” katanya.
Dia menjelaskan, Jember menjadi pioner pengobatan TBC RO menggunakan metode BPaLM. Bahkan pengobatan penyakit tersebut tidak hanya dapat dilakukan di rumah sakit.
Sejumlah faskes termasuk puskesmas yang ditunjuk juga dapat melakukan pengobatan serupa. Hal ini tentu menjadi kabar baik bagi warga Jember.
Tingkat efektivitas pengobatan yang dilakukan dalam jangka enam bulan itu tak kalah dengan pengobatan jangka panjang.
Terbukti sejumlah pasien TBC RO yang mendapatkan terapi itu di RSD dr Soebandi dinyatakan lulus pengobatan tersebut.
“Menariknya lagi, pengobatan ini minim efek samping, dibandingkan dengan pendahulunya,” tegasnya.
Dalam pengobatan TBC RO dengan BPaLM, tambahnya, nakes juga melakukan evaluasi efek samping, rekam jantung, darah, hingga dahak secara berkala.
Pengobatan dianggap berhasil apabila dalam enam bulan bakteri penyebab TBC sudah tidak ada di dalam tubuh pasien.
“Kalau dalam perjalanannya masih ada bakteri, maka bisa jadi di tengah jalan gagal pengobatan. Kalau begitu, kami akan memberikan obat lain, dengan jangka waktu lebih panjang,” pungkasnya. (ham/c2/dwi)
Editor : Halo Jember