Bukan Sekadar Kecapekan, Ini Alasan Banyak Pemudik Tiba-tiba Flu setelah Sampai Kampung Halaman

Yulio Faruq Akhmadi • Dipublikasikan Sabtu, 21 Maret 2026 | 04:00 WIB
Calon penumpang kereta api menunggu dengan mengenakan masker dan menjaga jarak di Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat (istimwa)
Calon penumpang kereta api menunggu dengan mengenakan masker dan menjaga jarak di Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat (istimwa)

HALOJEMBER – Banyak pemudik mengeluhkan kondisi tubuh yang tiba-tiba menurun setelah tiba di kampung halaman.

Flu, batuk, hingga demam ringan menjadi keluhan yang kerap muncul beberapa hari setelah perjalanan panjang.

Kondisi ini sering dianggap sekadar kelelahan biasa. Padahal, ada sejumlah faktor yang berperan dalam menurunnya daya tahan tubuh selama dan setelah perjalanan mudik.

Dokter spesialis penyakit dalam, dr. Rina Kurniawati menjelaskan bahwa perjalanan jarak jauh membuat tubuh mengalami kelelahan fisik yang signifikan.

Waktu istirahat yang terbatas serta posisi duduk dalam waktu lama turut memperburuk kondisi tubuh.

“Tubuh kita dipaksa berada dalam kondisi tidak ideal selama berjam-jam. Itu sudah cukup untuk menurunkan imunitas,” jelasnya.

Selain faktor kelelahan, paparan lingkungan selama perjalanan juga menjadi penyebab utama.

Tempat umum seperti terminal, stasiun, hingga rest area menjadi titik berkumpul banyak orang dengan kondisi kesehatan yang beragam.

Kontak langsung maupun tidak langsung dengan orang lain meningkatkan risiko penularan virus, termasuk virus penyebab flu. Terlebih jika tidak menggunakan masker atau menjaga kebersihan tangan.

“Dalam kondisi daya tahan tubuh turun, virus lebih mudah masuk dan berkembang,” ujarnya.

Fenomena flu setelah mudik juga sering berkaitan dengan apa yang disebut sebagai “delayed response” tubuh.

Saat perjalanan berlangsung, tubuh masih ‘menahan’ gejala. Namun setelah sampai dan mulai beristirahat, gejala justru muncul.

“Begitu tubuh rileks, sistem imun mulai bereaksi. Di situ gejala seperti flu mulai terasa,” terangnya.

Perubahan cuaca juga menjadi faktor tambahan yang sering diabaikan. Perbedaan suhu antara kota asal dan kampung halaman membuat tubuh harus beradaptasi kembali.

Jika tidak diimbangi dengan kondisi fisik yang prima, perubahan ini bisa memicu gangguan kesehatan, termasuk flu.

“Adaptasi itu butuh energi. Kalau tubuh sudah lelah, kemampuan adaptasinya menurun,” katanya.

Untuk mencegah hal tersebut, persiapan sebelum mudik menjadi hal yang sangat penting.

Istirahat cukup sebelum berangkat dapat membantu menjaga kondisi tubuh tetap stabil selama perjalanan.

Selain itu, menjaga asupan nutrisi dengan makanan bergizi juga berperan dalam memperkuat daya tahan tubuh.

Konsumsi vitamin tambahan dapat menjadi pilihan untuk menjaga imunitas.

Penggunaan masker di tempat ramai serta rutin mencuci tangan juga menjadi langkah sederhana yang efektif mencegah penularan penyakit.

“Hal-hal kecil seperti itu sering dianggap sepele, padahal dampaknya besar,” ungkapnya.

Selama perjalanan, pemudik juga disarankan untuk mengambil waktu istirahat secara berkala. Tidak memaksakan diri berkendara dalam kondisi lelah menjadi kunci penting menjaga kesehatan.

“Jangan memaksakan perjalanan kalau sudah lelah. Itu justru berisiko,” tegasnya.

Ia menambahkan, menjaga kesehatan saat mudik bukan hanya soal perjalanan, tetapi juga kesiapan tubuh secara keseluruhan.

“Tubuh itu harus dipersiapkan, bukan dipaksa. Kalau dipaksa, biasanya ‘balasnya’ setelah sampai,” pungkasnya.

 

Editor : Yulio Faruq Akhmadi
flu batuk flu burung mudik batuk akik