Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Tradisi ‘Kenduri Kupatan’ Warga Ambulu, Jember : Saling Bertukar Makanan Di Hari Lebaran Ketupat

Halo Jember • Kamis, 3 April 2025 | 19:00 WIB
 
HALOJEMBER - Setiap daerah di Indonesia memiliki tradisi yang berbeda-beda dalam merayakan Hari Raya IdulFitri. Salah satunya yaitu tradisi ‘Kenduri Kupatan’ yang dilakukan warga RT 02 RW 03 Dusun Krajan Lor, Desa Sumberejo, Ambulu, Jember.

Tradisi ini dilakukan untuk merayakan hari raya Ketupat yang biasanya jatuh pada satu minggu setelah hari raya Idulfitri atau tepatnya setiap tanggal 7 Syawal sebagai simbol berakhirnya lebaran di tahun tersebut. 

Menjelang digelarnya acara kenduri kupatan ini, warga akan mempersiapkan hidangan khas lebaran, seperti ketupat, lontong, opor, sayur santan dan lain sebagainya di rumah masing-masing. Kemudian hidangan tersebut diletakkan di wadah besar baik nampan maupun ember.

Acara kenduri ini dimulai di pagi hari sekitar pukul 06.00 WIB, warga dengan antusias berkumpul sambil membawa hidangan yang telah dipersiapkan di rumah masing-masing ke mushola terdekat.

Setelah semuanya berkumpul, warga duduk dengan rapi dan menggelar doa bersama yang dikhususkan untuk ahli kubur atau keluarga yang sudah meninggal dengan dipimpin oleh ustadz atau tokoh masyarakat setempat. 

Setelah doa selesai, agenda selanjutnya adalah makan bersama. Sayur santan yang sudah dibawa oleh masing-masing warga akan dimasukan ke dalam satu wadah dan dicampur menjadi satu.

Setelah tercampur rata, mereka akan membagikannya kembali ke warga yang menghadiri acara kenduri tersebut.

Begitu pula dengan ketupat, lontong dan lepet, warga akan menukarkan ketupat mereka dengan ketupat milik warga lain. Inilah yang membuat tradisi ini unik dimana warga setempat dapat saling merasakan masakan antar warga yang membuat tali kerukunan semakin erat.

Setelah prosesi doa dan makan bersama selesai, warga akan membubarkan diri dengan membawa pulang hidangan yang sudah ditukarkan tadi. 

Tak sedikit warga yang masih berdiam diri lebih lama di mushola untuk berbincang dengan warga lainnya. Terlebih lagi, pada momen tersebut beberapa tetangga yang merantau di luar kota kembali pulang ke kampung halaman untuk merayakan lebaran bersama keluarga.

Sehingga tak heran, kenduri kupatan ini menjadi kesempatan antar warga yang sudah lama tidak bertemu karena berada di tanah perantauan.

Menurut keterangan warga setempat, awalnya tradisi kupatan ini hanya sekadar membagikan ketupat ke rumah-rumah.

Namun, hal tersebut tidak dilanjutkan karena beberapa warga tidak bisa mengantarkan ketupat karena masalah kesehatan fisik. Sehingga sejak tahun 2010, tradisi kenduri kupatan dengan bertukar makanan di mushola ini dilakukan agar pembagiannya lebih mudah.

Selain itu, hal ini juga bertujuan untuk mempererat tali persaudaraan dan kerukunan antar warga.

Setelah mendapatkan respon yang positif dari warga, kegiatan ini terus dilakukan setiap tahunnya hingga sampai saat ini.

Menurut kepercayaan warga setempat yang mayoritas merupakan umat muslim Jawa. Hidangan khas lebaran termasuk ketupat, lontong, dan lepet ini memiliki makna filosofis yang mendalam, tetapi cukup sulit dijelaskan.

Dewi, salah satu warga mengungkapkan bahwa ketupat memiliki makna ‘ngaku lepat' (mengakui kesalahan dalam bahasa Jawa). Lontong memiliki arti ‘olone kosong’ (dosanya kosong). Sedangkan lepet memiliki arti ‘eleke empet’ (keburukan ditahan). 

 

  Penulis: MG25 Mariana Yaroh
Editor : Halo Jember
#jember #tradisi #Lebaran Ketupat