Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Gus Iqdam: Ulama Kharismatik, Penjaga Tradisi dan Inspirasi Generasi Muda

Halo Jember • Selasa, 22 April 2025 | 23:30 WIB
Gus Iqdam ulama muda yang sedang naik daun karena dakwahnya yang ringan. (Instagram)
Gus Iqdam ulama muda yang sedang naik daun karena dakwahnya yang ringan. (Instagram)

HALOJEMBER - Di tengah arus modernisasi dan derasnya informasi yang mengalir tanpa batas, masyarakat Indonesia tetap memiliki sosok-sosok panutan yang menjadi penjaga nilai-nilai keislaman dan kebangsaan.

Salah satu tokoh yang menonjol dalam beberapa tahun terakhir adalah Gus Idam, seorang ulama muda yang kharismatik, sederhana, dan mampu menjembatani pesan-pesan agama dengan kebutuhan zaman.

Gus Idam lahir di lingkungan keluarga pesantren yang kuat dalam tradisi Nahdlatul Ulama. Nama lengkapnya adalah KH. Idham Cholid, namun masyarakat lebih mengenalnya dengan sapaan akrab "Gus Idam."

Kata “Gus” sendiri merupakan gelar kehormatan di kalangan pesantren yang biasanya disematkan pada putra kiai atau ulama.

Sejak usia dini, Gus Idam telah diasah dengan pendidikan agama yang ketat dan disiplin tinggi. Ia mulai belajar Al-Qur’an dan dasar-dasar ilmu agama langsung dari ayahnya, yang juga merupakan seorang kiai berpengaruh di daerahnya.

Kecintaannya terhadap ilmu membuatnya menempuh pendidikan di berbagai pesantren ternama, termasuk Pondok Pesantren Lirboyo di Kediri dan Pondok Pesantren Tebuireng di Jombang – dua pesantren yang memiliki peran penting dalam sejarah pendidikan Islam di Indonesia.

Di kedua pesantren tersebut, Gus Idam tidak hanya menimba ilmu fikih, tafsir, hadits, dan tasawuf, tetapi juga menyerap nilai-nilai adab, akhlak, dan kebijaksanaan para ulama terdahulu. Ia dikenal sebagai santri yang tekun, rendah hati, dan mudah bergaul dengan siapa saja.

Setelah menyelesaikan pendidikannya, Gus Idam kembali ke kampung halamannya dan mendirikan sebuah pondok pesantren yang diberi nama Pondok Pesantren Nurul Huda.

Pesantren ini tumbuh pesat dan menjadi pusat pembelajaran yang tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga membuka ruang bagi kajian-kajian sosial, budaya, dan teknologi.

Gus Idam mengusung konsep pendidikan pesantren yang inklusif dan adaptif. Ia memadukan antara kurikulum klasik ala kitab kuning dengan pemahaman kontekstual terhadap perkembangan zaman. Hal ini membuat pesantrennya diminati oleh generasi muda dari berbagai latar belakang.

Selain mengasuh pesantren, Gus Idam juga aktif berdakwah ke berbagai daerah di Indonesia. Ia sering diundang mengisi pengajian, seminar, dan diskusi keagamaan.

Dalam setiap ceramahnya, ia selalu menekankan pentingnya menjaga toleransi antarumat beragama, memelihara ukhuwah Islamiyah, serta mencintai tanah air sebagai bagian dari iman.

Seiring dengan perkembangan zaman, Gus Idam juga merambah ke dunia digital. Ia aktif menyampaikan dakwah melalui platform seperti YouTube, Instagram, dan TikTok.

Gaya ceramahnya yang santai, namun penuh makna, membuatnya digandrungi oleh kalangan milenial dan generasi Z.

Konten-konten Gus Idam di media sosial tidak hanya membahas soal agama, tetapi juga isu-isu kehidupan sehari-hari, seperti keluarga, pergaulan, pendidikan, hingga tantangan hidup anak muda. Hal ini menjadikannya sebagai tokoh agama yang relevan dan mudah didekati.

Beberapa kutipan ceramahnya bahkan viral dan dijadikan motivasi hidup oleh para pengikutnya. Kalimat seperti "Kebaikan itu tak selalu terlihat besar, kadang hanya butuh senyum dan sabar" menjadi penyemangat bagi banyak orang yang sedang berjuang dalam hidupnya.

Meski dikenal luas dan memiliki banyak pengikut, Gus Idam tetap hidup dalam kesederhanaan. Ia menolak fasilitas berlebihan dan tetap tinggal di lingkungan pesantren bersama para santri.

Bahkan dalam kesehariannya, ia lebih sering mengenakan sarung, peci, dan baju koko sederhana.
Kesederhanaannya bukan hanya tampak dalam penampilan, tetapi juga dalam perilaku.

Ia dikenal sangat dekat dengan masyarakat kecil, sering turun langsung ke lapangan, membantu warga yang kesusahan, dan mendengarkan keluh kesah mereka tanpa batasan status sosial.

Sebagai ulama muda NU, Gus Idam menganut paham Islam Ahlussunnah wal Jama'ah an-Nahdliyah yang moderat dan ramah terhadap budaya lokal. Ia menolak keras paham ekstremisme dan radikalisme, serta aktif mengajak umat untuk menjaga keutuhan NKRI.

Dalam banyak forum, Gus Idam selalu menekankan bahwa Islam adalah agama kasih sayang, bukan kekerasan. Menurutnya, perbedaan pendapat dalam agama adalah hal yang wajar, selama tetap dalam koridor adab dan keilmuan.

Gus Idam adalah contoh nyata bahwa ulama bisa tetap relevan di tengah tantangan zaman. Ia mampu memadukan antara tradisi dan modernitas, antara teks dan konteks, antara ilmu dan hikmah.

Keberadaannya menjadi oase bagi masyarakat yang haus akan keteduhan spiritual dan pencerahan moral.

Di tengah gempuran disinformasi dan krisis keteladanan, sosok seperti Gus Idam adalah harapan – harapan akan hadirnya pemimpin umat yang bijaksana, bersahaja, dan mampu menyatukan umat dengan kelembutan serta cinta kasih.

Penulis: MG25 Okky Filzah Amalina

Editor : Halo Jember
#generasi muda #ulama #gus iqdam