HALOJEMBER.COM - Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) memiliki dampak yang mendalam dan merusak bagi wanita yang mengalaminya.
Efek psikologis seperti trauma, kecemasan, dan depresi sering kali menjadi bayangan gelap yang menghantui korban, bahkan setelah kekerasan fisik berhenti.
Tidak hanya itu, dampak sosial dan ekonomi yang dirasakan juga dapat memperparah kondisi, membuat korban terisolasi dan kehilangan kepercayaan diri.
Dalam jangka panjang, KDRT bisa meninggalkan luka yang sulit sembuh, mempengaruhi kualitas hidup, dan menghalangi mereka untuk menjalani hidup yang aman dan sejahtera.
BACA JUGA: Resmi Ditahan! Suami Cut Intan Nabila Dijerat Pasal Berlapis
KDRT mempunyai dampak jangka pendek dan jangka panjang terhadap korban baik secara fisik, emosional, psikologis, finansial, dan lainnya.
Kerugian KDRT dapat berakibat seumur hidup terhadap kesehatan fisik, mental, dan seksual. Lebih berat kasus KDRT bisa mengakibarkan pembunuhan, termasuk bunuh diri.
Berikut beberapa dampak fisik dan psikis yang bisa dialami para korban KDRT.
- Cidera Fisik Akut atau Langsung
Wanita lebih rentan mengalami cedera fisik akibat kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) oleh pasangannya dibandingkan pria.
Berdasarkan studi multinasional dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengenai kesehatan wanita dan KDRT, antara 19 persen (di Etiopia) hingga 55 persen (di Peru) wanita yang pernah mengalami kekerasan fisik dari pasangan intim mereka melaporkan bahwa mereka mengalami cedera sebagai dampaknya.
BACA JUGA: Geram Dengan Suami Cut Nabila, Pandawara Group Minta Maaf ‘SAMPAHNYA’ Masih Tertinggal
- Masalah Kesehatan Kronis
Di banyak wilayah, wanita yang mengalami kekerasan fisik atau seksual setelah usia 15 tahun cenderung lebih sering melaporkan kesehatan yang buruk, nyeri kronis, kehilangan memori, serta kesulitan berjalan dan melakukan aktivitas sehari-hari dibandingkan dengan wanita lain.
Penelitian juga mengungkapkan bahwa wanita dengan riwayat kekerasan lebih rentan terhadap masalah kesehatan kronis seperti sakit kepala, nyeri panggul kronis, nyeri punggung dan perut, sindrom iritasi usus besar, dan gangguan pencernaan lainnya.
- Femisida
Perempuan lebih besar kemungkinannya dibunuh oleh orang terdekat mereka, termasuk pasangannya.
Pasangan intim laki-laki melakukan 30–70 persen dari seluruh pembunuhan terhadap perempuan di wilayah seperti Israel, Afrika Selatan, dan Amerika Serikat (AS). Di Timur Tengah dan Asia Selatan, terkadang Perempuan dibunuh oleh keluarganya atas nama “kehormatan” karenan dianggap telah melakukan pelecehan seksual.
Namun, sama seperti laki-laki, perempuan juga dibunuh oleh oknum kriminal di masyarakat. Pembunuhan semacam ini bisa saja terjadi secara acak, tetapi ada contoh-contoh yang meresahkan mengenai pembunuhan sistematis terhadap perempuan, khususnya di Amerika Latin.
- Gangguan Ginekologi dan Trauma
Wanita yang mengalami kekerasan seksual memiliki risiko lebih tinggi terhadap masalah ginekologi, termasuk infeksi vagina, nyeri saat berhubungan seksual, nyeri panggul kronis, dan infeksi saluran kemih.
Sebuah penelitian di AS menunjukkan bahwa wanita yang mengalami kekerasan dari pasangan intim memiliki risiko tiga kali lipat lebih tinggi untuk mengalami masalah ginekologi dibandingkan dengan yang tidak mengalami kekerasan.
Bahkan tanpa adanya pelecehan seksual, wanita yang mengalami kekerasan masih menunjukkan peningkatan risiko terhadap masalah ini, meskipun alasannya belum sepenuhnya dipahami. Kekerasan seksual juga dapat menyebabkan trauma ginekologi yang parah, terutama dalam kasus pemerkosaan dengan benda atau ketika seorang anak dipaksa untuk berhubungan seksual dan melahirkan sebelum panggulnya matang.
Trauma ini bisa mencakup robekan vagina, fistula (robekan antara vagina dan kandung kemih atau rektum), pendarahan, infeksi, ulserasi, serta cedera genital lainnya saat melahirkan.
- Depresi
Depresi adalah salah satu konsekuensi serius dari KDRT, sering kali dipicu oleh peristiwa traumatis. Jika tidak ditangani, depresi ini dapat mengarah pada bunuh diri.
Risiko depresi pada wanita akibat KDRT berkaitan erat dengan usia, tingkat pendidikan, status sosial ekonomi, dan lamanya kekerasan dialami. Semakin lama seseorang mengalami KDRT, semakin tinggi risiko mereka untuk mengalami depresi.
- PTSD
Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) dapat berkembang sebagai akibat dari KDRT, dengan gejala seperti ketakutan, rasa rentan, dan ketidakberdayaan. Pengalaman ketakutan ini dapat menjadi sangat traumatis.
Penanganan segera diperlukan untuk penderita PTSD, karena tanpa itu, gangguan mental yang lebih serius dapat berkembang, terutama jika pelaku masih berada di lingkungan yang sama atau dekat dengan korban.
- Penyalahgunaan Zat
Korban KDRT sering kali beralih ke penyalahgunaan zat sebagai cara untuk mengatasi trauma mereka. Wanita yang pernah mengalami KDRT memiliki kemungkinan 15 kali lebih besar untuk menyalahgunakan alkohol dan 9 kali lebih mungkin untuk menggunakan narkoba dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki riwayat KDRT.
Selain itu, pelaku yang sering mabuk oleh obat-obatan atau alkohol lebih cenderung kehilangan kendali, yang menjadi salah satu faktor utama terjadinya KDRT. Pengaruh zat-zat ini meningkatkan risiko perilaku kasar.
- Isolasi Sosial
Dampak psikologis dari KDRT dapat membuat korban menarik diri dari orang-orang yang mereka cintai, teman-teman, dan keluarga. Isolasi ini semakin parah jika korban juga mengalami gangguan mental lainnya, seperti kecemasan atau depresi.
Mereka mulai merasa terputus, kesepian, dan kurang mendapatkan dukungan. Bagi orang tua, dampak ini juga dapat mempengaruhi kesejahteraan anak-anak mereka, karena mereka mungkin tidak tersedia secara emosional.
- Masalah Kepercayaan dan Keintiman
KDRT dapat merusak kemampuan korban untuk membangun kepercayaan dan keintiman dalam hubungan selanjutnya. Penyintas sering kali merasa sulit untuk memercayai orang lain, termasuk pasangan, kenalan, atau bahkan anggota keluarga mereka sendiri.
Pengalaman ini bisa sangat traumatis, meninggalkan luka fisik dan emosional yang mendalam. Pemulihan dari trauma ini memerlukan waktu, dukungan, dan perawatan yang memadai.
Penulis: Sufi Binti Khofifah
Editor : Halo Jember