Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Pernikahan Salēp Tarjhâ Masyarakat Madura, Bernakah Membawa Malapetaka?

Halo Jember • Sabtu, 31 Agustus 2024 | 22:00 WIB

 

ILustrasi Pernikahan Adat Madura (Pinterest)
ILustrasi Pernikahan Adat Madura (Pinterest)

HALOJEMBER.COM - Masyarakat Madura dikenal sebagai komunitas yang sangat religius, dengan Islam sebagai agama yang dijunjung tinggi. Hal ini terlihat dari ungkapan “Abhantal syahadat, asapo’ iman, apajung Allah” yang menggambarkan betapa kuatnya keyakinan orang Madura terhadap Islam.

Namun, di sisi lain, mereka juga tetap melestarikan adat dan tradisi yang kadang bertentangan dengan syariat Islam.

Adat dan tradisi ini seringkali berakar pada mitos yang sulit diterima secara logika dan bisa bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam, salah satunya adalah larangan terhadap pernikahan model Salēp Tarjhâ.

Salēp Tarjhâ adalah bentuk pernikahan yang dilarang oleh masyarakat Madura. Meskipun secara syariat Islam tidak ada yang salah dengan pernikahan ini, namun adat-istiadat setempat melarangnya.

Masyarakat Madura percaya bahwa pernikahan Salēp Tarjhâ bisa membawa bencana bagi pasangan dan keluarganya, seperti kesulitan rezeki, sering sakit, atau keturunan yang lahir dengan kondisi tidak normal.

Istilah Salēp Tarjhâ diberikan oleh sesepuh masyarakat Madura untuk menggambarkan pernikahan silang antara dua saudara kandung, lelaki dan perempuan.

Misalnya, jika Ali dan Arin adalah saudara kandung, mereka dijodohkan dengan Rina dan Rizal yang juga bersaudara kandung.

Dalam hal ini, pernikahan baru disebut Salēp Tarjhâ jika terjadi antara dua pasangan saudara kandung yang dinikahkan secara silang.

Meskipun sebagian masyarakat Madura masih mempercayai mitos ini, sebenarnya, baik secara hukum maupun menurut pandangan Islam, pernikahan seperti ini tidak dilarang.

Akibatnya, ada tiga golongan dalam masyarakat Madura terkait dengan mitos ini. Baca Juga: Makna di Balik Mitos Menancapkan Anak Pohon Pisang di Makam Orang Baru Meninggal

Golongan pertama adalah mereka yang sepenuhnya percaya bahwa pernikahan Salēp Tarjhâ harus dihindari karena dianggap membawa malapetaka.

Golongan kedua adalah mereka yang ragu-ragu atau setengah percaya pada mitos ini.

Golongan ketiga adalah mereka yang tidak percaya sama sekali dan menganggap kepercayaan terhadap mitos ini bertentangan dengan ajaran Islam.

Orang yang tetap nekat melangsungkan pernikahan Salēp Tarjhâ biasanya diharuskan mengadakan selamatan atau doa bersama dengan mengundang keluarga, tetangga, dan kiai. Baca Juga: Ganti Nama Anak Karena Sering Sakit atau Bawa Sial, Mitos atau Fakta?

Tujuannya adalah untuk memohon perlindungan agar pengantin dan keluarganya terhindar dari segala marabahaya.

 

Penulis: Sufi Binti Khofifah

Editor : Halo Jember
#adat istiadat #pernikahan adat madura #budaya #masyarakat Madura #syariat islam