HALOJEMBER - Masyarakat adat Jawa identik dengan cerita mitos dan kepercayaan. Kepercayaan yang diyakini ini masih berlaku dari zaman ke zaman.
Bahkan di era yang serba teknologi dan open minded ini, masih banyak masyarakat yang percaya akan mitos-mitos yang tersebar.
Baca Juga: Mengungkap Fakta Dibalik Aura Mistis Pantai Watu Ulo, Sebuah Misteri yang Belum Terungkap
Kepercayaan pada mitos ini seringkali menjadi cerita secara turun temurun, sehingga membentuk persepsi masyarakat jika tidak melakukannya pasti akan mendapat risiko.
Kebanyakan mitos mengandung aturan-aturan yang biasa disebut dengan gugon tuhon dalam bahasa Jawa.
Gugon tuhon, juga dikenal sebagai ora ilok atau pantang larang berupa petuah yang diwariskan oleh nenek moyang untuk mengajarkan akhlak dan tata krama dalam kehidupan.
Misalnya, mitos perempuan atau anak gadis yang menyapu tidak bersih maka akan mendapat jodoh yang brewokan.
Baca Juga: Sukses Bikin Baper Berikut Fakta Drama Love Scout, Makin Populer dan raih Rating Tinggi
Munculnya mitos tersebut ditujukan agar seorang wanita diberi kemudahan dalam mendapatkan pasangan yang tampan dan tidak buruk rupa.
Namun secara logika, mitos ini bisa dimaknai agar remaja perempuan menyapu dengan bersih sekaligus rajin membereskan rumah.
Dahulu, para orang tua percaya bahwa rumah yang kotor akan mengundang keburukan bagi tuan rumahnya.
Kotoran yang tertinggal akan menghambat rezeki, keberkahan dan segala hal yang tidak baik bagi pemilik rumah. Maka menyapu adalah hal sederhana yang dapat dilakukan untuk membersihkan rumah.
Umumnya orang tua akan membagi tugas untuk membersihkan rumah dengan anak gadisnya.
Usut punya usut, mitos tersebut muncul sebagai ancaman atau peringatan agar anak gadis yang membantu membersihkan rumah melakukan pekerjaannya dengan maksimal.
Lalu mengapa dikaitkan dengan lelaki yang brewokan?
Baca Juga: Belum Ada 24 Jam Dibanned, TikTok Kembali Aktif Jelang Pelantikan Presiden Amerika Donald Trump
Konon, para lelaki yang memiliki brewok terkenal dengan karakter yang keras dan kasar. Orang zaman dulu selalu mengidentikan pria jahat dengan ada tidaknya kumis atau jenggot di wajahnya.
Sedangkan pria yang memiliki wajah bersih selalu menjadi idaman mereka.
Maka dari itu, banyak wanita saat itu yang mulai menyapu dengan bersih agar tidak mendapatkan suami orang jahat.
Nyatanya saat ini pria brewokan juga banyak yang mengincar dengan alasan lebih berwibawa. Alhasil, mitos tersebut menjadi patokan para gadis dalam menentukan kriteria pasangan ideal untuk mereka.
Baca Juga: Rumah Gedek hingga Lantai Tanah Dinilai Tak Relevan, Begini Kriteria Warga Jember yang Masuk DTKS
Jika dimaknai secara logika, mitos tersebut tidak ada kaitannya antara menyapu dengan pasangan atau jodoh.
Meskipun kita mungkin tidak sepenuhnya mempercayai mereka, kita dapat menghargai betapa pentingnya mitos-mitos ini dalam membentuk identitas dan pandangan dunia masyarakat Indonesia.
Filosofi di balik mitos menyapu tidak bersih ternyata menyimpan makna yang lebih dalam dari sekadar urusan jodoh.
Nilai-nilai kehidupan seperti kedisiplinan, ketelitian, dan tanggung jawab ternyata terkandung dalam kepercayaan ini.
Oleh sebab itu, penting memahami bahwa mitos ini sebenarnya mengajarkan pentingnya menyelesaikan pekerjaan dengan tuntas.
Disamping itu, kita juga dapat melihat dari sisi positif mitos menyapu tidak bersih akan mendapat jodoh yang brewokan.
Selain berkaitan dengan kedisiplinan, tanggung jawab dan lainnya, faktanya lingkungan yang bersih juga berpengaruh pada aspek kesehatan dan kenyamanan tanpa perlu mengaitkannya dengan nasib pernikahan atau karakter pasangan.
Editor : Halo Jember