Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Profil Habib Abu Bakar Assegaf: Ulama Besar Gresik yang Dijuluki Al-Qutb

Halo Jember • Rabu, 16 April 2025 | 14:00 WIB
Potret Habib Abu Bakar Assegaf
Potret Habib Abu Bakar Assegaf

HALOJEMBER - Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf merupakan salah satu tokoh yang memiliki pengaruh luas. Habib Abu Bakar berada di antara nama-nama besar ulama yang turut menyebarkan Islam di Indonesia, 

Habib Abu Bakar lahir di Besuki, Situbondo, Jawa Timur pada 16 Dzulhijjah 1367 Hijriah atau bertepatan dengan 30 Maret 1869 M.

Lahir dari Keluarga Ulama, Sejak Kecil Menimba Ilmu ke Hadramaut, Yaman

Habib Abu Bakar berasal dari keluarga besar Bani Alawi dan merupakan keturunan ke-36 dari Rasulullah SAW melalui jalur cucunya, Sayyidina Husain bin Ali.

Sejak kecil, beliau sudah menunjukkan ketertarikan terhadap ilmu agama. Pada usia delapan tahun, beliau berangkat ke Hadramaut, Yaman.

Di sana, beliau menimba ilmu dan menjadi murid langsung dari ulama-ulama besar di Hadramaut seperti pamannya sendiri Habib Abdullah bin Umar Assegaf, Habib Syeikh bin Umar Assegaf, Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi (penyusun Maulid Simtudduror), hingga Habib Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur (Mufti Hadramaut).

Setelah hampir satu dekade menuntut ilmu, beliau akhirnya kembali ke Indonesia dan memutuskan untuk menetap di tanah air.

Kembali ke Indonesia dan Menetap di Gresik

Habib Abu Bakar kembali ke nusantara sekitar tahun 1302 H atau tahun 1885 Masehi, beliau sempat tinggal di tanah kelahirannya, Besuki, Situbondo.

Saat berusia 20 tahun, akhirnya beliau memutuskan untuk menetap di Gresik, Jawa Timur. Di kota inilah beliau menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk berdakwah.

Pada 15 tahun pertamanya di Gresik, Habib Abu Bakar memilih untuk melakukan uzlah atau khalwat, yakni mengasingkan diri atau menyendiri untuk untuk memperdalam ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah.

Kata uzlah sendiri berasal dari bahasa Arab, azlun, yang berarti menyendiri atau mengasingkan.

Tak banyak orang yang mengetahui apa yang beliau lakukan semasa khalwatnya itu, tetapi setelah keluar dari masa pengasingan, Habib Abu Bakar mulai aktif berdakwah. Bahkan, beliau juga mulai membangun komunitas keilmuan.

Mendirikan Majelis Rouhah dan Dakwah

Salah satu warisan terbesar beliau adalah didirikannya Majelis Rouhah di Gresik. Majelis taklim ini adalah salah satu majelis pertama yang berdiri di Gresik.

Majelis ini menjadi pionir dalam pengkajian kitab-kitab klasik (kitab salaf) dan menjadi tempat para santri dan jamaah dari berbagai penjuru nusantara menimba ilmu.

Pengajian yang diadakan di Majelis Rouhah berlangsung secara rutin dan bersifat terbuka, menghidupkan nilai-nilai syiar Islam di pesisir utara Jawa yang sejak dahulu menjadi pintu masuk penyebaran Islam di Jawa.

Dakwah beliau terkenal akan penekanannya pada akhlak, adab terhadap guru, dan kecintaan pada baginda Rasul.

Selama masa dakwahnya, berbagai tokoh masyarakat hingga tokoh politik datang meminta nasihat pada Habib Abu Bakar. Hal ini membuktikan bahwa keberadaan beliau memiliki pengaruh yang sangat besar pada masa itu.

Karomah dan Julukan Al-Qutb

Nama “Al-Qutb” bukanlah julukan yang didapat secara sembarangan. Dalam istilah tasawuf, “Qutb” adalah pemimpin spiritual tertinggi yang menjadi poros kekuatan ruhani di muka bumi. Julukan ini diberikan kepada Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf karena reputasi spiritualnya yang sangat tinggi.

Berbagai karomah atau kejadian luar biasa sering didapat oleh Habib Abu Bakar. Dalam berbagai kisah yang diceritakan para muridnya, beliau pernah membantu menemukan anak seorang pejabat yang mendapat gangguan dari jin.

Bahkan, ada cerita bahwa beliau pernah muncul di tengah laut untuk menyelamatkan jamaah di dalam kapal yang terombang-ambing karena badai.

Meskipun tidak pernah mengakuinya secara langsung, masyarakat Gresik dan sekitarnya meyakini bahwa kehadiran beliau membawa keberkahan tersendiri.

Wafat dalam Keadaan Berpuasa

Menjelang akhir hayatnya, Habib Abu Bakar diketahui berpuasa selama 15 hari berturut-turut. Kepada orang terdekatnya, beliau sering berkata bahwa ia merasa bahagia akan segera berjumpa dengan Allah SWT.

Akhirnya, beliau wafat pada malam Senin, 17 Dzulhijjah 1376 H (15 Juli 1957 M) di usia 91 tahun.

Jenazahnya kemudian dimakamkan di kompleks Masjid Jami’ Gresik, berdampingan dengan makam gurunya, Habib Alwi bin Muhammad Hasyim Assegaf.

Hingga hari ini, makamnya terus ramai dikunjungi oleh para peziarah, terutama saat haul tahunan yang digelar setiap Dzulhijjah.


 

Penerus dan Warisan Dakwah

Habib Abu Bakar menikah dengan Hubabah Syifa binti Abdul Qodir Assegaf dan dikaruniai dua putra, Habib Ali bin Abu Bakar bin Muhammad Assegaf dan Habib Segaf bin Abu Bakar bin Muhammad Assegaf, yang kemudian meneruskan perjuangan dakwah ayahandanya. Majelis taklim yang dirintis beliau kini berkembang luas dan menjadi bagian penting dalam jaringan pendidikan keislaman di Jawa Timur.

Warisan Habib Abu Bakar bukan hanya pada ilmu dan keteladanan, tetapi juga pada sistem dakwah yang sederhana namun penuh makna. Beliau menunjukkan bahwa kekuatan ulama bukan pada gelar atau jabatan, melainkan pada kedekatan dengan Allah dan kebermanfaatan bagi umat.


 

Penulis: MG25 Hafidzah Aulia Salsabila

Editor : Halo Jember
#gresik #ulama #Habib Abu Bakar Assegaf