Tidak seekstrem santet yang bertujuan menyakiti, pelet lebih dikaitkan dengan urusan asmara, menarik perhatian, menumbuhkan cinta, bahkan mengikat seseorang secara batin.
Namun, jangan salah meski terdengar “lembut,” ilmu pelet tetap termasuk dalam praktik ilmu hitam yang melibatkan energi gaib.
Dalam banyak kepercayaan di Nusantara, ilmu pelet bisa dilakukan dengan berbagai media—dari jimat, doa khusus, hingga menggunakan benda milik target.
Ada pula pelet yang ditanamkan lewat tatapan mata, disebut “pelet pandangan,” atau pelet makanan yang dipercaya mampu menumbuhkan rasa cinta secara tiba-tiba pada orang yang dituju.
Di beberapa daerah seperti Banyuwangi, praktik ini dikenal sangat kuat dan dijaga turun-temurun oleh orang-orang tertentu.
Biasanya mereka yang menguasai ilmu ini disebut dukun pelet. Meski tidak semua memanfaatkannya untuk tujuan buruk .
Namun tetap saja muncul banyak cerita tentang hubungan tidak wajar atau korban yang merasa tidak bisa lepas dari seseorang tanpa alasan yang jelas.
Kasus paling umum dari efek pelet adalah korban mengalami obsesi berlebihan, gelisah tanpa sebab, hingga perubahan perilaku ekstrem.
Beberapa mengaku merasakan mimpi berulang tentang sosok yang sama, atau bahkan merasa seperti “dicengkeram” secara batin dan tidak bisa mencintai orang lain.
Meski demikian, tak sedikit pula masyarakat yang menolak dan mengecam penggunaan ilmu pelet.
Banyak yang berpendapat bahwa cinta harus lahir secara alami dan tulus, bukan dipaksakan lewat kekuatan metafisik.
Bahkan dalam beberapa ajaran agama, praktik seperti ini dianggap menyimpang dan merusak tatanan spiritual.
Keberadaan ilmu pelet memperlihatkan bahwa keinginan manusia untuk dicintai bisa mendorong mereka ke batas yang tak terlihat.
Namun di balik kekuatan gaib tersebut, tetap ada pertanyaan "sejauh mana kita boleh mengendalikan perasaan orang lain dengan cara yang tidak wajar?"
Penulis: MG25 Ailatul Miza Zulfa