Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Permainan Tradisional Dakon, Awas Jangan Salah Lubang!

Sidkin • Senin, 12 Mei 2025 | 00:30 WIB

 

SERU: Dua orang sedang bermain Dakon, salah satu permainan tradisional yang masih dimainkan di Lumajang. (ADE APRYANIS/RADAR SEMERU)
SERU: Dua orang sedang bermain Dakon, salah satu permainan tradisional yang masih dimainkan di Lumajang. (ADE APRYANIS/RADAR SEMERU)

LUMAJANG, Halo Jember - Permainan tradisional dakon yang juga dikenal dengan sebutan congklak, masih mudah ditemui di berbagai daerah di Jawa, termasuk di Lumajang.

Permainan ini dimainkan oleh dua orang dengan tujuan mengumpulkan biji sebanyak-banyaknya ke dalam lumbung milik masing-masing.

Dalam permainan dakon, ada dua alat utama yang dimainkan. Yaitu papan dan biji dakon.

Papan biasanya memanjang dengan ukuran panjang, lebar, dan tebal yang bervariasi.

Papan itu memiliki minimal 12 lubang dan 2 lubang besar di bagian ujungnya.

Pada awalnya papan dakon terbuat dari kayu, namun seiring berkembangnya zaman, papan ini lebih banyak berbahan plastik.

Bahkan, papan dakon yang terbuat dari kayu sering dihiasi dengan ornamen khas, seperti ukiran kepala naga yang menambah nilai estetika.

Selain papan, media utamanya adalah biji dakon.

Biji-bijian itu bisa dari biji buah-buahan, kerikil, kelereng kecil, atau plastik.

Cara bermainnya sederhana, isi setiap lubang kecil dengan 7 biji atau berapapun tergantung kesepakatan.

Pemain bergantian mengambil semua biji dari salah satu lubang kecil miliknya dan membagikannya satu per satu ke lubang-lubang berikutnya secara berlawanan arah jarum jam.

Jika biji terakhir jatuh di lumbung miliknya, maka pemain dapat melanjutkan giliran dengan mengambil biji dari lubang kecil di sisinya.

Namun, jika berhenti di lubang kosong miliknya atau di lumbung lawan, giliran berpindah ke pemain lain.

Permainan berakhir ketika semua biji telah terkumpul di lumbung masing-masing.

Pemenangnya adalah pemain yang memiliki jumlah biji terbanyak di lumbungnya.

Intan Nur Rima, seorang warga Lumajang mengungkapkan, permainan dakon perlu terus dikenalkan kepada generasi muda.

"Dakon ini harus terus dikenalkan, karena kan mainnya gampang. Saya rasa siapa pun bisa memainkan dakon," ujarnya.

Permainan ini tidak hanya menyenangkan, tetapi juga mengajarkan nilai-nilai seperti kejujuran, kesabaran, dan strategi.

Dengan kesederhanaannya, dakon menjadi salah satu warisan budaya yang patut dilestarikan agar tidak hilang ditelan zaman. (dea/dwi)

Editor : Sidkin