Tak hanya mengenang wafatnya seorang tokoh agama, haul menjadi momentum silaturahmi, penguatan iman, serta ajang menimba ilmu.
Tradisi haul sudah mengakar kuat dalam budaya pesantren dan masyarakat santri.
Banyak di antara ulama yang wafat tetap dipandang sebagai sosok yang membawa keberkahan, sehingga mendoakan mereka menjadi bagian dari bentuk kecintaan.
Seperti dalam haul KH Abdul Hamid Pasuruan atau haul Mbah Priok di Jakarta Utara hingga Haul Habib Abu Bakar Gresik dan Haul Habib Sholeh.
Ribuan orang bahkan rela datang dari luar daerah dengan biaya sendiri hanya untuk ikut mendoakan.
Menurut Prof. Azyumardi Azra (alm), haul dalam konteks budaya pesantren tak bisa dilepaskan dari tradisi ta’dzim (penghormatan) kepada guru dan kiai.
“Dalam haul, ada penguatan sanad keilmuan dan spiritual. Itu bukan sekadar ziarah,” ungkapnya.
Haul juga menjadi pengingat kematian, mendorong umat untuk introspeksi diri, dan memperbanyak amal baik.
Acara ini biasanya diisi dengan tahlil, maulid, ceramah agama, hingga pembagian sedekah makanan kepada warga sekitar.
Jamaah haul pun tak hanya datang karena kewajiban, tapi karena cinta.
Baca Juga: Wisata Religi atau Komersialisasi? Melihat Makam Sunan Giri Gresik Lebih Dekat
Bagi mereka, menghadiri haul seperti mendatangi rumah seorang guru yang telah berjasa membimbing hidup mereka, meski sang guru sudah tiada.
Karena itulah, haul berbeda dengan ziarah biasa.
Haul adalah peringatan yang hidup, kolektif, dan penuh makna.
Penulis: MG25 Ailatul Miza Zulfa
Editor : Dwi Siswanto