Di jalanan para demonstran terjungkal tak kondisonal
Gas air mata keluar menghujam terus-terusan
Ulah mereka yang berseragam bayangan dibalik pagar
Yang hatinya luluh hanya pada kaum bangsawan
Mereka gagah di jalan raya
Garang rakyat, jinak pada pejabat
Pistolnya sekali dor bagai petir bikin getir
Namun di depan pejabat hanya bisa menyingkir dan nyengir
Sumpahnya lantang di podium pesta
“Melindungi rakyat dan menjaga bangsa!”
Tapi faktanya sungguh terasa
Mereka jadi pagar baja untuk penguasa
Rakyat bersuara kau lempar gas air mata
Pejabat khilaf kau pura-pura lemas, padahal sudah terbiasa
Peraturan kau ketatkan bagi perut jelata
Longgar seketika pada celana kaum naga dan penguasa istana
Baca Juga: Fenomena Tren Velocity, Antara Esensi dan Eksistensi, OPINI Oleh: Hidayat Nor Wahit
Mobil pejabat melintas cepat
Kau tegap sambil hormat
Tapi saat motor rakyat lewat
Langsung kau sikat sampai dompet sekarat
Wahai polisi, aksesorimu megah
Sedangkan nuranimu kering, alias gersang sudah
Pelindung rakyat hanya ada di dongeng konoha
Di dunia nyata kau budak tahta semata
Baca Juga: Merdeka Harga Mati ! Lomba Baca Puisi yang Menggema di Museum Telu Jember
Sejarah kelak mencatat ngeri
Kau bukan pelindung tapi penjilat ngeri
Pangkat di pundakmu bukanlah pelita
Melainkan penanda, pengkhianat janji kita
Oleh: A. Propbeh FS*
*Nama pena dari Hidayat Norwahit mahasiswa UIN KHAS Jember, alumnus Ponpes Annuqayah daerah Lubsel dan pernah berproses di Sanggar Basmalah
Editor : Dwi Siswanto