Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Apa yang Terjadi Setelah Tertembak? Kenapa Pertolongan Menit Pertama Sangat Menentukan

Sidkin • Senin, 1 Desember 2025 | 06:46 WIB

 

Apa yang Terjadi Setelah Tertembak? Kenapa Pertolongan Menit Pertama Sangat Menentukan
Apa yang Terjadi Setelah Tertembak? Kenapa Pertolongan Menit Pertama Sangat Menentukan

Halojember.jawapos.com - Dalam kasus luka tembak, nasib seseorang sering kali ditentukan bukan hanya oleh seberapa parah luka yang ia alami, tapi seberapa cepat ada yang membantu di detik-detik awal.

Para tenaga medis bilang bahwa lima sampai sepuluh menit pertama adalah masa paling kritis karena tubuh sedang berusaha keras mempertahankan tekanan darah dan napas.

Di situasi nyata, orang pertama yang melihat korban biasanya jadi penolong utama sebelum ambulans tiba.

Makanya, kemampuan dasar seperti menghentikan pendarahan, menenangkan korban, dan mengenali tanda bahaya itu penting banget buat siapa saja.

Menghentikan pendarahan adalah langkah pertama yang paling harus dilakukan karena kebanyakan korban meninggal bukan karena “lukanya”, tapi karena kehabisan darah.

Tekanan langsung pakai kain, baju, atau apa pun yang bersih bisa bikin aliran darah pelan dulu sambil menunggu bantuan medis.

Kalau lukanya di lengan atau kaki, tourniquet darurat bisa dipakai asalkan benar cara pasangnya.

Tapi kalau lukanya di perut atau dada, kita nggak boleh bergerak sembarangan karena bisa membuat kondisi korban makin parah.

Dokter trauma menjelaskan bahwa peluru itu tidak selalu melesat lurus di dalam tubuh dan bisa saja memantul atau pecah menjadi banyak serpihan kecil.

Serpihan itu bisa merusak jaringan atau organ dalam tanpa terlihat dari luar, jadi kondisi korban bisa jauh lebih parah dari yang tampak.

Korban yang masih sadar dan bisa bicara bukan berarti aman karena bisa saja terjadi pendarahan internal yang tidak terlihat.

Tanda-tanda seperti kulit pucat, keringat dingin, napas cepat, atau mulai linglung biasanya menunjukkan tubuh dalam kondisi berbahaya.

Saat korban mulai menunjukkan tanda shock, makin cepat dia dibawa ke rumah sakit, makin besar peluangnya untuk selamat.

Begitu sampai di ruang gawat darurat, dokter biasanya bergerak cepat melakukan pemeriksaan, transfusi darah, dan operasi darurat jika perlu.

Tim medis mencari sumber pendarahan, menutup luka dalam, dan memastikan organ vital tetap berfungsi.

Semua proses itu kadang berlangsung sangat cepat karena setiap detik bisa menentukan hidup atau tidaknya korban.

Setelah operasi selesai, proses pemulihan masih panjang karena tubuh harus pulih dari kerusakan jaringan dan risiko infeksi.

Banyak pasien luka tembak butuh waktu berminggu-minggu untuk benar-benar stabil dan kembali beraktivitas.

Selain luka fisik, trauma mental sering kali jauh lebih berat dan bertahan lama.

Banyak korban yang selamat kemudian merasa takut, gampang kaget, atau bahkan mengalami kilas balik dari kejadian yang dialaminya.

Ada juga yang merasa bersalah meski mereka tidak salah dalam insiden itu, sebuah kondisi yang biasa disebut “survivor’s guilt”.

Karena itu, dukungan keluarga, teman, dan bantuan profesional sangat membantu membuat korban kembali percaya diri.

Dengan semakin banyak orang yang paham cara menolong di menit pertama, angka keselamatan korban luka tembak bisa jauh lebih baik.

Artikel lanjutan ini mengajak kita melihat bahwa menangani luka tembak bukan hanya soal kemampuan medis, tapi juga soal kepedulian dan kesiapan bersama.

Editor : Sidkin