HALOJEMBER - Di tengah jutaan manusia, blangkon menjadi penanda visual yang sangat efektif atau sering disebut sebagai "GPS Manual" di Arab Saudi, di Makkah maupun Madinah.
Warna dan bentuknya yang mencolok dibanding peci atau sorban pada umumnya, membuat anggota rombongan lebih mudah saling menemukan jika terpisah setelah melaksanakan salat.
"Sangat membantu untuk mengenali kawan jika terpisah. Dari jauh sudah kelihatan kalau itu rombongan kita," tambah Saban.
Warisan Budaya yang Terus Dirawat
Penggunaan blangkon oleh jemaah Indonesia ini sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 2017 dan terus dipertahankan sebagai wujud cinta tanah air.
Meski memakai pakaian adat, jemaah tetap mematuhi aturan ihram, di mana blangkon dilepas saat masa ihram berlangsung.
Aksi ini mendapat sambutan positif, karena mampu mengintegrasikan nilai-nilai ibadah dengan kearifan lokal, memperindah aktivitas, serta menunjukkan identitas bangsa yang santun dan berbudaya di Tanah Suci.
Baca Juga: Sunnah Tidur dan Istirahat di Muzdalifah Agar Ibadah Haji Tetap Optimal
Filosofi Mendalam di Tanah Suci
Saban Nuroni menambahkan, pendamping KBIHU Muslimat NU dalam kloter tersebut, menjelaskan bahwa penggunaan blangkon mengandung filosofi religius yang mendalam.
Terdapat 17 lipatan (wiru) pada blangkon yang melambangkan jumlah rakaat salat fardu dalam sehari semalam, menjadi pengingat spiritual bagi pemakainya.
"Selain itu, punukan (tonjolan) di bagian belakang blangkon mengajarkan jemaah untuk menyimpan rapat-rapat aib atau perbedaan pendapat, bukannya diumbar di depan publik," kata Saban.
Editor : Hariri HJ