HALOJEMBER – Ketika mendekati idul adha, rasanya tidak mungkin kita tidak terpikirkan soal daging, Tapi, pernahkah terlintas di benak kita apakah cara akita mengolah daging tersebut sudah benar, atau apakah daging yang kita terima sehat untuk dimakan?.
Kasus keracunan daging kurban memang pernah terjadi di Surabaya pada tahun 2023 silam.
Musuh Tak Kasat Mata
Bahaya utama pada daging kurban biasanya datang dari kontaminasi bakteri dan parasit.
Baca Juga: Biaya Haji 8–12 Tahun Lagi Bakal Naik Berapa? Ini Hitungan Paling Akurat Saat Ini atau Tahun 2026
Dosen Bakteriologi dan Parasitologi Universitas Muhammadiyah Surabaya, Vella Rohmayani, menegaskan bahwa bakteri Salmonella adalah pelaku utama dalam banyak kasus keracunan daging kurban.
"Bakteri salmonela bisa menyebabkan keracunan dengan gejala mual, muntah, diare, sampai kram perut," ujarnya, dilansir dari detikJatim (9/6/2025).
Proses masuknya bakteri ini seringkali sangat sederhana dan luput dari perhatian.
Menurut drh. Supratikno, MSi, PAVet dari IPB, kontaminasi bisa terjadi sejak penyembelihan. Mulai dari pisau yang tidak steril, meja pemotongan yang kotor, hingga tangan penyembelih yang tidak higienis.
"Bakteri bisa berkembang sangat cepat di suhu ruang, Dalam dua jam saja, jumlah bakteri bisa meningkat seribu kali lipat jika daging dibiarkan terbuka," ungkapnya, dilansir dari Tabloid Sinartani (1/6/2025).
Tak hanya bakteri, parasit seperti Cysticercus bovis dan Toxoplasma gondii juga bisa bersarang dalam jaringan otot hewan yang terinfeksi.
Dr. Ridi Arif, ahli parasitologi dari IPB, mengingatkan bahwa parasit ini "tidak selalu kelihatan secara kasat mata" dan bisa sangat berisiko jika daging dikonsumsi mentah atau setengah matang, dilansir dari Tabloid Sinartani.
Kenali Ciri Daging yang Sudah Tidak Layak
Jangan sampai kita memasak daging yang sudah tidak layak. Berikut ciri-cirinya yang mudah dikenali, kita dilansir dari detikFood dan Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur:
Pertama, bau daging segar memiliki aroma khas yang bersih, kalau tercium bau asam, tengik, atau menyengat seperti telur busuk, bau menyengat adalah pertanda utama pembusukan.
Kedua, warna daging segar berwarna merah cerahm jika warnanya berubah pucat, kehijauan, atau kebiruan, itu indikasi pembusukan. Namun, perlu dicatat bahwa daging sapi muda secara alami berwarna lebih pucat daripada daging sapi dewasa.
Ketiga, tekstur daging yang baik memiliki tekstur yang kenyal dan padat. Saat ditekan dengan jari, permukaannya akan segera kembali ke bentuk semula. Jika lembek dan tidak kembali ke bentuk awal, itu artinya daging sudah terdegradasi.
Baca Juga: Sanksi Berat Haji Furoda Alias Haji Kilat, Korban Selundupan Ilegal Travel Haji-Umroh
Keempat, salah satu ciri paling kentara dari daging yang mulai busuk adalah munculnya lapisan lendir di permukaannya.
Panduan Olah Daging Yang Aman
Untuk panitia atau waktu penyembelihan, lebih baik untuk memisahkan alat pemotong daging dari alat untuk jeroan atau darah demi menghindari kontaminasi.
Selain itu, gunakan selalu kantong plastik bening food grade, bukan plastik hitam daur ulang yang mengandung zat karsinogenik.
Sedangkan untuk kita yang berada di rumah, dilansir dari AntaraNews dan Bisnis.com
- Penyimpanan: Segera simpan daging di suhu dingin. Daging segar bisa bertahan 3-4 hari di kulkas (suhu <5°C). Untuk penyimpanan jangka panjang, bekukan di freezer (-18°C hingga -20°C) dan sebaiknya dikonsumsi maksimal 3 bulan. Jangan konsumsi daging beku yang sudah lebih dari 6 bulan.
Baca Juga: Disabilitas Jember Patungan Beli Hewan Kurban, Bangun Kesadaran Berbagi untuk Sesama
- Pencucian: Jangan mencuci daging sebelum disimpan karena kelembapan justru mempercepat pertumbuhan bakteri. Cukup bilas saat akan dimasak.
- Pemasakan: Masak daging hingga benar-benar matang (suhu internal minimal 70°C) untuk membunuh bakteri. Hindari memasak dengan minyak atau santan berlebihan.
- Penyajian: Olahan daging yang disajikan di suhu ruang wajib dikonsumsi sebelum 4 jam. Jika lebih, panaskan kembali hingga mendidih.
Selamat merayakan Idul Adha, dan tetap jaga kesehatan (mg4)
Editor : Hariri HJ