Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Kenali Gejala dan Dampak Post Power Syndrome, Kondisi Kejiwaan Setelah Kehilangan Kekuasaan

Alvioniza • Sabtu, 6 Juli 2024 | 23:50 WIB
(Ilustrasi : iStock)
(Ilustrasi : iStock)

“Inti dari post power syndrome ini sebetulnya kaget. Setelah sibuk beberapa dekade, kemudian berhenti, sehingga timbul kebingungan akan melakukan apa."

MARISA SELVY HELPHIANA
Psikolog Biro Konsultasi Gemilang Psikologi

HALOJEMBER.COM - Sebelum memasuki masa pensiun, sebaiknya mulai berpikir dan merencanakan bagaimana kehidupan pada masa pensiun nanti.

Jika tidak, maka masalah mental bisa saja terjadi. Salah satunya post power syndrome. Meski tidak semua pensiunan mengalami hal itu, namun potensi untuk terdampak terbuka lebar bagi semua orang.

Psikolog Biro Konsultasi Gemilang Psikologi Marisa Selvy Helphiana menjelaskan, post power syndrome merupakan kondisi ketika seseorang masih membayangkan pencapaiannya pada masa lalu dan membandingkannya dengan masa kini.

Hal itu merupakan bentuk reaksi negatif yang muncul dalam menghadapi masa purnabakti. Seperti merasa minder, kurang, bahkan hilang motivasi kerja.

BACA JUGA: Apa itu Metabolic Syndrome? Kenali Gejala dan Cara Pencegahannya

Hal tersebut biasanya dialami oleh orang-orang yang kehilangan kekuasaan atau jabatan. Diikuti oleh menurunnya harga diri.

Faktor lainnya juga disebabkan oleh kehilangan rutinitas dan tujuan hidup, penurunan pendapatan, hingga pensiun.

“Sehingga menganggap diri sudah menua. Akhirnya muncul rasa takut akan kematian, penyakit, dan keterbatasan dalam beraktivitas,” katanya.

Post Power Syndrome dapat menjadi lebih parah apabila yang bersangkutan pada saat yang sama kehilangan pasangannya.

BACA JUGA: Ini Cara Olahraga Jalan Kaki Agar Tidak Merusak Tubuh

Sementara, dia tidak memiliki kesibukan serta ditekan kebutuhan finansial. Keinginan untuk tidak pensiun dan masalah kesehatan juga bisa menjadi faktor yang dapat memperparah keadaan tersebut.

“Inti dari post power syndrome ini sebetulnya kaget. Setelah sibuk beberapa dekade, kemudian berhenti, sehingga timbul kebingungan akan melakukan apa," tegasnya.

Untuk mencegah keadaan tersebut, orang yang sudah memasuki usia 25 hingga 45 tahun mulai harus berpikir dan merencanakan masa pensiunnya nanti.

Sayangnya, tak jarang ditemukan orang dengan usia 50 tahun bahkan masih bingung rencana yang akan dilakukan. Dengan demikian, ketika pensiun dia merasa kaget, seakan waktu berjalan cepat.

Jika perencanaan tidak dilakukan, kemudian terdampak post power syndrome, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menanganinya. Baik dilakukan secara mandiri maupun dengan bantuan tenaga profesional.

BACA JUGA: Ibu - ibu Muda Hobi Main Basket, Seimbangkan Kewajiban dan Hobi

Penanganan secara mandiri dapat dilakukan dengan memperbanyak kegiatan dan berkomunikasi dengan keluarga, sehingga fisik dan mental tetap terjaga.

“Bisa melanjutkan hobi yang tertunda akibat pekerjaan atau memenuhi keinginan yang belum terwujud. Kalau perlu buat jadwal harian mau ngapain aja,” tuturnya.

Lebih lanjut, perempuan yang akrab disapa Icha itu juga menyebut, tidak semua orang yang sudah memasuki masa pensiun akan mengalami post power syndrome. Bergantung pada perencanaan dan persiapan yang dibuat sebelum memasuki masa tersebut.

Bagi penderita yang tidak ditangani dengan baik, dapat memicu demensia atau menurunnya kemampuan berpikir dan ingatan. “Terjadinya biasanya usia 65 tahun ke atas,” pungkasnya. (ham/c2/fid)

Editor : Halo Jember
#lifestyle #post power syndrome