HALOJEMBER.COM – Banyak orang di masyarakat percaya bahwa sering marah-marah bisa menyebabkan tekanan darah tinggi atau hipertensi.
Keyakinan ini sudah berkembang luas dan bahkan dianggap sebagai pengetahuan umum yang sering disampaikan dari satu generasi ke generasi lain.
Namun, benarkah anggapan tersebut? Apakah ada bukti ilmiah yang mendukung klaim bahwa sering marah-marah bisa langsung memicu hipertensi? Atau mungkin ini hanya sekadar mitos belaka?
BACA JUGA: Kenali Penyebab Seseorang Merasa Lelah Saat Bangun Tidur dan Cara Mengatasinya
Hubungan Emosi dan Tekanan Darah
Marah-marah seringkali dikaitkan dengan peningkatan tekanan darah sementara. Menurut Dr. Tunggul D. Situmorang, seorang Dokter Penyakit Dalam Konsultan Ginjal Hipertensi, stres atau kemarahan memang dapat memengaruhi tekanan darah seseorang.
Ketika seseorang marah, tubuh bereaksi dengan memproduksi hormon tertentu, seperti adrenalin dan kortisol. Hormon-hormon ini memicu respons "fight or flight", yang menyebabkan jantung berdetak lebih cepat dan pembuluh darah menyempit. Akibatnya, tekanan darah pun meningkat dalam jangka pendek.
Namun, Dr. Tunggul juga menekankan bahwa marah-marah yang diakibatkan oleh stres tidak selalu menyebabkan hipertensi jangka panjang. Peningkatan tekanan darah yang terjadi bersifat sementara dan akan kembali normal setelah individu tersebut tenang.
Hal ini berarti bahwa seseorang yang sering marah-marah tidak serta-merta akan menjadi penderita hipertensi hanya karena emosinya tidak stabil. "Yang pasti adalah orang yang lagi emosi, tensinya tinggi.
BACA JUGA: Stres Saat Hamil, Timbulkan Dampak Berbahaya bagi Ibu dan Janin
Tapi apakah dia hipertensi? Belum tentu," jelas Dr. Tunggul dalam sebuah acara peringatan Hari Hipertensi Sedunia di Jakarta pada 17 Mei 2024.
Stres dan Pengaruhnya pada Kesehatan Jantung
Meskipun marah-marah tidak secara langsung menyebabkan hipertensi jangka panjang, stres yang berkepanjangan dapat memberikan dampak buruk pada kesehatan jantung.
Ketika seseorang terus-menerus mengalami stres atau sering marah, reaksi hormonal yang sama bisa terjadi secara berulang, yang pada akhirnya dapat memberi tekanan pada sistem kardiovaskular.
Seiring waktu, stres kronis dapat memicu perkembangan berbagai masalah kesehatan, termasuk penyakit jantung dan tekanan darah tinggi.
Dalam kondisi normal, tubuh kita memiliki kemampuan untuk menyeimbangkan kembali tekanan darah setelah stres atau marah reda.
Namun, jika stres berlangsung terus-menerus dan tidak ditangani, tubuh mungkin tidak dapat pulih dengan baik, sehingga meningkatkan risiko gangguan kesehatan.
BACA JUGA: Ramuan Ini Dipercaya Efektif Atasi Bau Badan, Berikut Cara Mengolahnya
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa orang yang mengalami stres kronis cenderung memiliki risiko lebih tinggi untuk mengembangkan hipertensi dibandingkan dengan mereka yang hidup dalam kondisi emosional yang lebih stabil.
Apakah Marah-Marah Selalu Berisiko Menyebabkan Hipertensi?
Pertanyaan utama yang muncul adalah: apakah marah-marah bisa menjadi penyebab utama hipertensi? Untuk memahami jawabannya, penting untuk memisahkan antara peningkatan tekanan darah sementara yang terjadi akibat marah-marah dan hipertensi sebagai kondisi medis kronis.
Marah-marah yang memicu peningkatan sementara tekanan darah memang terjadi secara alami sebagai bagian dari respons tubuh terhadap stres. Namun, ini tidak berarti seseorang otomatis memiliki risiko lebih tinggi terkena hipertensi hanya karena sering marah.
Hipertensi adalah kondisi yang berkembang karena berbagai faktor, termasuk faktor gaya hidup seperti pola makan, aktivitas fisik, dan riwayat keluarga.
BACA JUGA: Sembelit Potensi Sebabkan Kanker Usus, Lebih Jeli Perhatikan Pola BAB
Jika seseorang sudah memiliki risiko hipertensi karena faktor-faktor tersebut, maka stres atau kemarahan yang berulang bisa memperburuk kondisi tersebut.
Dalam banyak kasus, individu yang sudah mengalami hipertensi sering kali merasakan ketidaknyamanan ketika mereka marah, karena tekanan darah mereka yang sudah tinggi semakin meningkat.
Di sinilah muncul persepsi bahwa marah-marah selalu berhubungan dengan hipertensi. Namun, ini tidak selalu benar.
Sebaliknya, orang yang memiliki tekanan darah normal pun bisa mengalami peningkatan tekanan sementara saat marah, tetapi ini bukanlah indikasi bahwa mereka akan mengembangkan hipertensi di kemudian hari.
Cara Mengelola Stres untuk Mengurangi Risiko Kesehatan
Beberapa cara yang dapat membantu mengurangi dampak negatif dari stres dan kemarahan terhadap tekanan darah dan kesehatan jantung meliputi:
- Latihan Pernafasan dan Relaksasi
Latihan pernafasan dalam dan teknik relaksasi seperti meditasi atau yoga dapat membantu menenangkan pikiran dan tubuh, serta mengurangi respons hormonal terhadap stres. - Olahraga Teratur
Olahraga ringan hingga sedang, seperti berjalan atau bersepeda, dapat membantu menurunkan kadar stres dan meningkatkan kesehatan jantung secara keseluruhan. - Mengelola Emosi dengan Baik
Belajar untuk mengelola emosi dengan cara yang lebih sehat, seperti berbicara dengan teman atau keluarga, dapat membantu mencegah ledakan emosi yang berlebihan. - Menghindari Pemicu Stres
Mengenali situasi atau faktor yang memicu stres dan belajar untuk menghindarinya dapat membantu mengurangi frekuensi dan intensitas stres yang dirasakan.
Sering marah-marah dapat menyebabkan peningkatan sementara tekanan darah, namun tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa marah-marah secara langsung menyebabkan hipertensi kronis.
Stres dan marah-marah memang dapat memicu respons hormonal dalam tubuh yang menyebabkan jantung berdetak lebih cepat dan pembuluh darah menyempit, tetapi ini biasanya hanya bersifat sementara.
Hipertensi adalah kondisi kompleks yang disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk gaya hidup dan genetika. Dengan mengelola stres dan emosi dengan baik, seseorang dapat mengurangi dampak negatif terhadap kesehatan jantung dan mencegah peningkatan risiko penyakit kardiovaskular di masa depan.
Penulis: Ayin Tripuan Maharani
Editor : Halo Jember