Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Ketertiban vs Ekspresi, Kenapa Rambut Gondrong Pernah Dilarang?

Dwi Siswanto • Selasa, 25 November 2025 | 00:46 WIB
FOTO: diambil dari website ixobox
FOTO: diambil dari website ixobox

Halo Jember - Rambut gondrong di Indonesia pernah punya “reputasi” yang jauh lebih berat daripada sekadar urusan model rambut.

Di era Orde Baru, model rambut ini diperlakukan seperti indikator moral kalau gondrong, berarti nggak tertib, kebarat-baratan, atau bahkan dianggap berpotensi bikin onar.

Negara saat itu menganggap penampilan pemuda bukan bagian dari kebebasan personal, melainkan sesuatu yang harus dikontrol demi menjaga citra bangsa yang rapi dan patuh.

Masuknya budaya pop Barat dari musik rock sampai gaya hippies membuat banyak anak muda Indonesia ikut tren rambut panjang.

Tapi alih-alih dipandang sebagai budaya global yang wajar, pemerintah menilainya sebagai pengaruh negatif.

Media pemerintah pun ikut “mengunci” narasi itu, menampilkan rambut gondrong sebagai gaya yang bertolak belakang dengan nilai-nilI nasional.

Dari sinilah razia rambut gondrong mulai muncul di berbagai kota. Penertiban dilakukan di jalanan, sekolah, kampus, hingga instansi pemerintah.

Bahkan beberapa daerah membentuk lembaga khusus yang tugasnya cuma satu memberantas rambut gondrong.

Operasinya pun ekstrem yang ketahuan gondrong langsung dipotong di tempat. Narasi media juga memperkuat stigma, menjadikan rambut panjang identik dengan kriminalitas dan ketidaktertiban.

Jika ditarik lebih jauh, rambut gondrong sebenarnya bukan fenomena “nakal” sama sekali.

Dalam beberapa periode sejarah, rambut panjang justru jadi simbol keberanian atau ekspresi identitas.

Namun Orde Baru membawa konsep itu ke tingkat kontrol baru, menjadikannya bagian dari proyek besar penertiban anak muda.

Tidak heran kalau kemudian seniman, musisi, dan mahasiswa menggunakan rambut gondrong sebagai bentuk perlawanan diam terhadap batasan yang terlalu mengontrol.

Seiring berjalannya waktu, stigma ini pelan-pelan berubah. Di komunitas kreatif, rambut gondrong lebih dipahami sebagai ekspresi seni.

Meski begitu, sisa-sisa cara pandang lama masih muncul di sekolah atau tempat kerja, di mana rambut panjang sering dipersepsikan sebagai kurang rapi atau tidak disiplin.

Ironisnya, banyak pelajar maupun pendidik kurang mengetahui bahwa larangan gondrong dulu berkaitan dengan agenda politik, bukan soal kerapian atau estetika.

Kalau melihat pendidikan negara lain, sistemnya maju bukan karena muridnya berambut pendek, tapi karena fokusnya pada kualitas belajar dan pengembangan potensi.

Jadi sebenarnya, masalahnya bukan rambut gondrong, tapi mindset yang masih melihat penampilan sebagai ukuran karakter.

Selama pendekatan seperti itu belum berubah, pendidikan akan sulit beranjak dari urusan-urusan yang tidak relevan.

Sekarang, rambut gondrong bukan lagi simbol perlawanan besar, tetapi tetap membawa memori tentang bagaimana negara pernah ikut campur sampai ke detail sekecil penampilan.

Dan bagi generasi hari ini, rambut gondrong bisa punya makna yang lebih sederhana pilihan gaya, identitas personal, atau sekadar kenyamanan bukan sesuatu yang patut dicurigai.

Kalau dulu rambut panjang dibaca sebagai ancaman, sekarang justru jadi pengingat bahwa kebebasan berekspresi pernah diperjuangkan, dan tidak seharusnya terkunci lagi oleh stigma masa lalu.

Penulis: Tazyinatul Ilmiah

Editor : Dwi Siswanto
#model rambut #rambut gondrong #ekspresi #ketertiban #Reputasi