Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Rindu Memuncak saat Jembatan Gantung Putus, Cinta Syahdu di Tengah Hujan yang Dingin Jelang Valentine

Hariri HJ • Jumat, 13 Februari 2026 | 16:42 WIB

Ilustrasi cinta dua sejoli sebelum jembatan putus. (Foto: Visionary Pixels-pinterst)
Ilustrasi cinta dua sejoli sebelum jembatan putus. (Foto: Visionary Pixels-pinterst)

HaloJember – Rumahku dan rumah kekasihku tak begitu jauh. Namun, juga tidak seperti dalam lagu berjudul pacarku lima langkah.

Sore itu, dua hari jelang Hari Valentine, aku duduk di teras rumah. Menengok ke arah jembatan gantung yang menjadi saksi bisu pertemuan pertama kali dulu.

Ya, aku dan dia sering melewati jembatan itu. Aku pun jadian di sekitar jembatan gantung itu.

Maklum saja, jarak rumah kami berdua hanya terpisah oleh jembatan gantung.

Untuk ke rumah pacarku, aku cukup melangkah sekitar lima menit. Bukan pacar lima langkah.

Namun, jelang waktu Isyak. Aku mendengar gemuruh air sungai di dekat rumahku membesar.

Aku terbayang oleh wajah ke kasih di seberang sana. Aku ingin sekali bertemu dengannya. Tapi, aku takut. Air sungai sat itu terus membesar.

Biarlah, sekali pun aku bisa jalan lima menit. Aku akan pendam rasa rindu untuk sementara waktu. Aku rindu pacarku diseberang sana.

Tak lama setelah aku membayangkan wajahnya. Siapa sangka, jembatan gantung yang menjadi saksi cintaku degan sang kekasih itu, putus. Jembatan gantung itu roboh akibat banjir besar.

Malam itu, aku pun ikut menyaksikan jembatan gantung yang roboh itu.

Aku sempat video call (VC) dengan kekasihku. Ternyata sama, dia juga menyaksikan jembatan gantung yang putus dari seberang sana.

Malam itu, rinduku kian memuncak. Aku ingin sekali bertemu dengan kekasih pujaan hatiku.

Tapi apalah daya. Hujan tak reda-reda sampai malam. Syahdunya cinta di tengah hujan yang dingin.

Saat itu, aku menyatakan kalimat yang tak menurutku sangat-sangat penting. “Sayang, sekali pun jembatan gantung ini putus, aku tak ingin cinta kita ikut putus”

Itu kataku padanya melalui VC. Di tengah banyaknya orang yang sibuk. Mendengar itu, kekasihku meng-iya-kannya.

Dia sempat meyakinkanku, bahwa cinta yang tulus butuh perjuangan. Bukan saja jarak, tetapi tentang menahan rasa rindu yang butuh perjuangan. Semakin tak bertemu, semakin rindu. Kisah cintaku pun semakin kuat.

Aku pun tersipu malu di dekat jembatan gantung yang putus. Aku merindukan kekasihku di seberang sana. Dia tempat ku curhat. Tempat ku mengisahkan tentang manis pahitnya dunia.

Malam itu pun, aku dan dia sama-sama meratapi jembatan gantung yang putus, dari sisi yang berbeda.

Aku dan kekasihku, malam itu punya harapan yang sama. Sekali pun jembatan putus, cinta kita berdua takkan pernah putus.

Aku dan dia juga berharap, jembatan gantung yang menjadi saksi bisu kisah cinta ini bisa segera dibangun oleh pemerintah.

Harapan ini bukan saja tentang akses kisah cintaku. Akan tetapi, tentang banyaknya harapan orang lain.

Harapan orang yang bekerja yang sering melewati jembatan gantung dan harapan anak-anak bangsa yang biasa pergi dan pulang sekolah lewat jembatan gantung itu.

Malam itu, aku tak bisa tidur hingga pagi bahkan siang dan sore.

Aku khawatir ada banjir lebih besar. Namun hatiku lebih tenang karena hujan telah reda.

Aku dan dia pun sama-sama mengerti, sekali pun jembatan gantung itu putus, namun cintaku tetap nyambung.

(Cerpen ini murni dari imajinasi penulis)

Editor : Hariri HJ
#cinta yang syahdu #jembatan gantung putus #hari valentine #hujan yang dingin #rindu yang memuncak