HALOJEMBER — Berkomunikasi dengan orang yang memiliki kecerdasan emosional rendah atau low emotional intelligence kerap menjadi tantangan tersendiri, baik di lingkungan kerja, pertemanan, maupun keluarga.
Pakar psikologi menilai, perbedaan kemampuan mengelola emosi dapat memicu salah paham jika tidak disikapi dengan strategi komunikasi yang tepat.
Individu dengan kecerdasan emosional rendah umumnya kesulitan mengenali emosi diri dan orang lain.
Dalam percakapan, mereka bisa terdengar defensif, mudah tersinggung, atau kurang peka terhadap perasaan lawan bicara.
Kondisi ini bukan selalu karena niat buruk, melainkan keterbatasan dalam keterampilan emosional yang belum terlatih.
Pakar menyarankan agar komunikasi dilakukan dengan bahasa yang jelas, tenang, dan langsung pada inti masalah.
Menghindari sindiran atau kata-kata ambigu dinilai membantu mengurangi salah tafsir. Menyampaikan perasaan dengan kalimat “saya” seperti “saya merasa terganggu ketika…” dapat membuat pesan lebih mudah diterima tanpa terkesan menyalahkan.
Selain itu, penting untuk menetapkan batasan yang sehat. Jika percakapan mulai memanas, mengambil jeda sejenak dinilai lebih efektif daripada memaksakan diskusi saat emosi sedang tinggi.
Memberi waktu untuk menenangkan diri dapat membantu kedua pihak berpikir lebih jernih sebelum melanjutkan komunikasi.
Pendekatan empatik juga dianjurkan, meski tidak selalu mudah. Mendengarkan tanpa langsung menghakimi dapat membuka ruang dialog yang lebih aman.
Namun, pakar mengingatkan agar empati tidak berarti mentoleransi perilaku yang merugikan. Menjaga batasan tetap penting demi kesehatan mental diri sendiri.
Fenomena pembahasan kecerdasan emosional semakin marak di media sosial seperti TikTok dan Instagram.
Meski konten edukatif membantu meningkatkan kesadaran, pakar menilai istilah “low EI” sebaiknya tidak digunakan untuk melabeli atau merendahkan orang lain.
Para ahli menegaskan bahwa kecerdasan emosional dapat dilatih seiring waktu. Komunikasi yang sehat, contoh perilaku yang baik, serta dukungan lingkungan berpotensi membantu seseorang meningkatkan kemampuan mengenali dan mengelola emosinya.
Dengan pendekatan yang tepat, relasi tetap bisa terjaga meski perbedaan kemampuan emosional ada di antara individu.
Editor : Harry Erje