Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Fenomena Curving Relationship Kian Marak, Hubungan dan Komunikasi Misterius

Mat Hari • Rabu, 25 Februari 2026 | 19:35 WIB

Ilustrasi Curving Relationship (Freepik)
Ilustrasi Curving Relationship (Freepik)

HALOJEMBER — Istilah “curving relationship” kian populer dalam perbincangan anak muda di media sosial.

Fenomena ini merujuk pada perilaku seseorang yang sengaja menghindari komitmen atau pembicaraan serius dalam hubungan, namun tetap menjaga komunikasi agar tidak sepenuhnya putus.

Pakar menilai, pola relasi seperti ini berpotensi menimbulkan kebingungan emosional bagi pihak yang berharap hubungan berkembang lebih jelas.

Dalam praktiknya, curving relationship sering ditandai dengan respons yang setengah-setengah, menghindari topik status hubungan, serta sikap hangat-dingin yang tidak konsisten.

Seseorang mungkin tetap membalas pesan atau sesekali mengajak bertemu, tetapi menghindari kejelasan arah hubungan. Pola ini membuat pihak lain merasa “digantung” tanpa kepastian.

Psikolog menjelaskan bahwa curving relationship bisa dipicu oleh berbagai faktor, seperti ketakutan akan komitmen, trauma hubungan sebelumnya, atau keinginan mempertahankan kedekatan tanpa tanggung jawab emosional.

Di sisi lain, sebagian pelaku mungkin tidak sepenuhnya sadar bahwa perilakunya berdampak pada kondisi emosional pasangan atau lawan bicara.

Fenomena ini semakin terlihat seiring maraknya diskusi relasi di media sosial seperti TikTok dan Instagram.

Banyak pengguna membagikan pengalaman “dighosting setengah” atau “ditahan tanpa kejelasan”, yang kemudian dikaitkan dengan istilah curving relationship.

Dari sisi kesehatan mental, pakar menilai hubungan tanpa kejelasan dapat memicu stres, overthinking, dan penurunan harga diri, terutama bagi pihak yang berharap pada komitmen.

Ketidakpastian yang berkepanjangan berpotensi menguras energi emosional dan menghambat proses penyembuhan atau membuka diri pada relasi yang lebih sehat.

Pakar menyarankan agar individu berani membangun komunikasi terbuka sejak awal. Menyampaikan kebutuhan dan batasan pribadi dinilai penting untuk mencegah salah paham.

Jika arah hubungan tidak sejalan, mengambil keputusan untuk menjaga jarak atau mengakhiri interaksi secara sehat dapat menjadi langkah melindungi kesehatan mental.

Fenomena curving relationship menjadi pengingat bahwa kejujuran emosional dan kejelasan komitmen tetap menjadi fondasi penting dalam membangun relasi yang sehat.

Kesadaran akan pola hubungan tidak sehat diharapkan dapat membantu generasi muda membangun hubungan yang lebih jujur, setara, dan saling menghargai.

 

Editor : Harry Erje
#Curving Relationship